Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Pangkalpinang

Warga Lontong Pancur Desak Lurah Netral, Gelar Aksi Protes Besar-Besaran

×

Warga Lontong Pancur Desak Lurah Netral, Gelar Aksi Protes Besar-Besaran

Sebarkan artikel ini
Caption: Warga Lontong Pancur Gelar Aksi Protes di Depan Kantor Lurah, Tuntut Netralitas dan Transparansi.

Pangkalpinang – Setelah sebelumnya Lurah Opas Indah menjadi sorotan akibat dugaan ketidaknetralan dalam pemilihan kepala daerah 2024, kini Lurah Lontong Pancur menghadapi situasi serupa. Ratusan warga menggelar aksi demonstrasi menuntut transparansi dan akuntabilitas dari lurah mereka pada Senin (21/10/2024).

Aksi ini dipicu oleh keterlibatan Lurah Lontong Pancur dalam acara yang dihadiri calon walikota Molen-Hakim. Keberadaan lurah di acara tersebut, serta foto-foto dirinya menunjukkan simbol nomor urut pasangan calon dengan kode dua jari, membuat warga merasa keberatan.

Lurah yang mengungkapkan rasa iri melalui pesan WhatsApp, seakan menantang warganya untuk melakukan demonstrasi, menciptakan gelombang ketidakpuasan yang akhirnya meledak dalam bentuk aksi protes.

Yusuf, akrab disapa Jojo dan menjabat sebagai koordinator aksi, menyatakan, “Kami tidak berniat melakukan orasi, tetapi setelah pernyataan lurah, kami merasa perlu memenuhi tantangan tersebut.”

Para pemuda Lontong Pancur berkumpul di kantor lurah, membawa berbagai spanduk yang menyampaikan tuntutan mereka, seperti “Lurah harus netral” dan “Cabut nama jalan Molen.” Salah satu isu utama dalam aksi ini adalah penamaan jalan Molen yang dianggap tidak melibatkan musyawarah dengan masyarakat setempat.

Sabirin, salah satu tokoh pemuda yang ikut berorasi, mengatakan, “Keputusan sepihak ini menciptakan ketidakpuasan di masyarakat. Kami tidak setuju dengan nama itu dan meminta agar diganti,” ungkapnya.

Selain itu, retribusi sampah yang ditetapkan lebih tinggi dibandingkan kelurahan lain, yakni 25 ribu per bulan, juga menjadi sorotan. “Mengapa kami harus membayar lebih?” tanya Sabirin dengan tegas.

Masyarakat Lontong Pancur tidak hanya menuntut perubahan dalam kepemimpinan lurah, tetapi juga berharap adanya dialog yang lebih baik dengan pemerintah daerah. “Kami ingin pak Camat menyampaikan aspirasi kami kepada PJ Walikota agar lurah diganti. Jika tidak, kami akan beraksi lebih besar di kantor walikota,” tegas Reren, salah satu peserta aksi.

Aksi demonstrasi ini mencerminkan kekuatan kolektif masyarakat dalam menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah lokal. Warga Lontong Pancur menginginkan agar pejabat publik, terutama Aparatur Sipil Negara (ASN), menjaga netralitas mereka dalam politik, demi terciptanya lingkungan yang kondusif.

Peserta aksi berharap perhatian publik dan media terhadap masalah ini dapat mendorong perubahan yang diinginkan. Mereka yakin bahwa dengan dukungan yang lebih luas, suara mereka akan didengar dan menginspirasi tindakan nyata dari pemerintah.

Secara keseluruhan, situasi ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah daerah mengenai pentingnya melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Dengan memperhatikan aspirasi warga, harapan akan terciptanya pemerintahan yang lebih baik dan partisipatif semakin nyata. (KBO Babel)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *