Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
PangkalpinangOpiniPolitik

Pilwakot Ulang Pangkalpinang Makin Panas: Koalisi Mengerucut, Kandidat Masih Rapuh

×

Pilwakot Ulang Pangkalpinang Makin Panas: Koalisi Mengerucut, Kandidat Masih Rapuh

Sebarkan artikel ini
Foto/Ist - Ilustrasi

Penulis: Eddy Supriadi,M,Pd (Pengamat Politik/Mantan Birokrat)

PANGKALPINANG – Pilkada ulang Kota Pangkalpinang 2025 mulai menunjukkan kontur baru: koalisi partai politik makin mengerucut, namun para kandidat justru menunjukkan gejala rapuh—baik dalam gagasan maupun kedekatan dengan rakyat.

PDIP dan Gerindra digadang-gadang berkoalisi. Maulana Aklil (Molen), meski pernah dikalahkan kotak kosong, masih menyimpan sisa kekuatan elektoral 20–25%. Jika dipasangkan dengan tokoh kuat Gerindra seperti Bangun Jaya atau Erfian, ini bisa menjadi mesin politik yang efektif.

Di sisi lain, PDIP juga menyimpan figur alternatif seperti Prof. Saparudin yang lebih akademis dan visioner, serta Desi yang potensial merepresentasikan suara perempuan partai.

Golkar tampaknya melirik naturalisasi figur nasional seperti Rasio Ridho Sani alias Roy. Jika disandingkan dengan Metarini dari NasDem atau Budi RRI, terbentuklah poros teknokratik yang tidak bisa diremehkan. Sementara Demokrat mempertimbangkan kembalinya Dr. Hakim, dan PPP, PKB, hingga PAN masih menggodok arah dukungan ke figur seperti KH. Jaffar, Gandhi, atau Adhy Sarpio.

Di sisi lain, figur-figur independen seperti Eka–Radmida, yang menjadi simbol memori kotak kosong, tetap punya daya tawar moral. Mereka tak dibebani kompromi politik dan punya basis kultural yang solid.

Namun, di tengah menguatnya peta koalisi, justru banyak kandidat mulai kehilangan daya dobrak. Narasi tak berkembang, strategi tak membumi, dan pendekatan kepada rakyat cenderung normatif. Ini menandakan: yang mengerucut bukan hanya koalisi, tapi juga daya juang politik sebagian calon.

Secara historis, Pilkada Pangkalpinang telah memberi pelajaran mahal: rakyat bisa menolak semua jika tidak percaya. Secara sosiologis, warga kota ini makin kritis dan tidak mudah dibeli narasi kosong. Secara yuridis, semua berhak maju, tapi hanya yang mampu membangun kepercayaan rakyat yang akan menang. Dan secara filosofis, Pilkada adalah ruang moral, bukan pasar kuasa.

Pilkada 2025 bukan sekadar kontestasi elite, tapi ujian kepercayaan publik. Saat partai sibuk mencari jagoan, rakyat sibuk menimbang siapa yang benar-benar membawa harapan.

Untuk diketahui: Tahapan Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwakot) ulang Pangkalpinang 2025 kian ramai dan dinamis. Sejumlah partai politik membuka penjaringan, puluhan nama bermunculan, dan peta koalisi mulai terbentuk. Namun di tengah gegap gempita bursa calon, publik justru disuguhi kaburnya visi dan arah perjuangan para kandidat.

Partai Golkar dan PDIP menjadi dua partai pertama yang mengumumkan daftar bakal calon. Golkar menerima lima nama untuk Cawako: Hermanto Phoeng, Ismi Purnawan, Rasio Ridho Sani, Basit Sucipto, dan Rio Andi Wijaya. Sementara untuk posisi Cawawako, tujuh nama muncul: Elly Gustina Rebuin, Aldy Taher, Masagus M. Hakim, M. Sahari, Areng Permana, Meitariani, dan Hilda Gustina/Titin Hilda.

PDIP juga bergerak cepat. Lewat DPC PDIP Kota Pangkalpinang, sebanyak 12 nama telah mendaftar. Mereka antara lain: dr. Masagus Hakim, Ismi Purnawan, Ahmad Amir, Muhammad Sahri, Hermanto Phoeng, Rio Andiwijaya, Saparudin, Achmad Dedy Karnadi, Basit Cinda Sucipto, Bennya Batara Hutabarat, Merry, dan M. Rusdipo.

Meski antusiasme tinggi, pengamat menilai belum terlihat narasi kuat yang diusung para kandidat. Banyak yang masih terpaku pada pendekatan administratif dan elektoral, tanpa visi yang menyentuh persoalan nyata warga Pangkalpinang—seperti kemiskinan, tata kota, ketimpangan infrastruktur, serta layanan publik yang belum optimal.

Minimnya keterlibatan tokoh muda, perempuan, dan profesional juga menjadi sorotan. Padahal, wajah baru dengan kepemimpinan bersih dan berorientasi perubahan sangat dinanti, terutama pasca trauma politik Pilkada 2024 yang dimenangkan oleh “kotak kosong”.

Sementara itu, partai lain seperti Gerindra, Demokrat, PKB, PPP, dan PAN masih menggodok jagoannya. Nama-nama lain pun beredar melalui jalur perseorangan, termasuk petahana Maulana Aklil (Molen), akademisi Prof. Saparudin, hingga tokoh independen lokal.

Dengan waktu yang terus bergulir menuju penetapan resmi, publik berharap para bakal kandidat tampil lebih terbuka, membawa gagasan kuat, dan mampu menjawab tantangan zaman. Pangkalpinang tak sekadar butuh pemimpin yang populer, tapi pemimpin yang punya visi jelas dan keberpihakan nyata.

Sumber informasi: Daftar kandidat berdasarkan hasil penjaringan DPD Partai Golkar dan DPC PDIP Kota Pangkalpinang hingga akhir April 2025.
(Redaksi/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *