DJITUBERITA,BANGKA SELATAN – Selama bertahun-tahun, keberadaan guru Bimbingan dan Konseling (BK) masih sering dipersepsikan sebatas menangani peserta didik yang melanggar tata tertib, membolos, berkelahi, atau menghadapi persoalan kedisiplinan. Akibatnya, ruang BK kerap dipandang sebagai tempat pemberian sanksi, bukan sebagai ruang pembinaan dan pengembangan potensi.
Pandangan tersebut dinilai perlu segera diubah. Reka Nova, S.Pd, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA Negeri 1 Air Gegas sekaligus Mahasiswa Program Magister (S2) Universitas Ahmad Dahlan, menegaskan bahwa hakikat layanan BK jauh lebih luas daripada sekadar menyelesaikan persoalan peserta didik.
Menurutnya, BK merupakan instrumen strategis dalam sistem pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter, pengembangan potensi, serta pendampingan peserta didik agar tumbuh menjadi manusia yang matang secara intelektual, emosional, sosial, moral, dan spiritual.
“BK bukan sekadar menangani masalah, tetapi membangun peradaban melalui pembangunan manusia,” ujar Reka Nova dalam artikel opini yang diterima Redaksi Djituberita.com
Ia menjelaskan, secara akademik layanan BK memiliki tiga fungsi utama, yakni preventif, developmental (pengembangan), dan kuratif. Dengan demikian, guru BK semestinya hadir sebelum masalah muncul melalui pendampingan yang berkelanjutan, bukan hanya ketika peserta didik telah melakukan pelanggaran.
Pendidikan Harus Memanusiakan Manusia
Reka menilai pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Mengacu pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, pendidikan sejatinya merupakan proses menuntun seluruh potensi kodrat manusia agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai individu maupun anggota masyarakat.
Karena itu, pendidikan harus mampu membentuk karakter, integritas, empati, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama, serta tanggung jawab sosial. Dalam konteks tersebut, layanan BK memiliki posisi yang sangat strategis karena berfokus pada perkembangan peserta didik secara menyeluruh.
Tantangan Pendidikan Semakin Kompleks
Menurut Reka, dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya.
Fenomena perundungan, kekerasan di lingkungan sekolah, penyalahgunaan media sosial, rendahnya empati, hingga meningkatnya persoalan kesehatan mental menjadi bukti bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur semata dari nilai rapor maupun prestasi akademik.
“Sekolah bisa melahirkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi belum tentu menghasilkan pribadi yang memiliki integritas dan kepedulian sosial,” tulisnya.
Dalam kondisi tersebut, guru BK memiliki tanggung jawab sebagai pendamping profesional yang mampu membantu peserta didik memahami dirinya, mengelola emosi, membangun hubungan sosial yang sehat, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Selaras dengan Psikologi Modern
Reka mengaitkan pentingnya layanan BK dengan teori psikologi humanistik.
Ia mengutip pemikiran Abraham Maslow mengenai aktualisasi diri sebagai kebutuhan tertinggi manusia. Aktualisasi diri tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan akademik ataupun karier, tetapi juga kemampuan menjadi pribadi yang utuh, bermakna, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Sementara itu, teori Carl Rogers menegaskan bahwa setiap individu memiliki kecenderungan berkembang ke arah positif apabila berada dalam lingkungan yang menerima, menghargai, dan memberikan dukungan.
Pendekatan tersebut menjadi dasar praktik konseling modern yang mengedepankan empati, penghormatan terhadap martabat manusia, serta pendampingan tanpa stigma maupun penghakiman.
Dalam Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, lanjut Reka, pembangunan peradaban selalu dimulai dari pembangunan kualitas manusia.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 yang menegaskan bahwa perubahan suatu kaum hanya akan terjadi apabila perubahan dimulai dari diri mereka sendiri.
“Selain itu, QS. An-Nisa ayat 9 mengingatkan pentingnya membangun generasi yang kuat, bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara moral, mental, dan karakter”
Sementara hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia menunjukkan bahwa inti pendidikan adalah pembentukan karakter.
BK Harus Adaptif di Era Digital
Reka menilai guru BK juga dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
Peserta didik kini menghadapi berbagai tantangan baru, mulai dari tekanan media sosial, krisis identitas, cyberbullying, hingga persoalan kesehatan mental yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata.
Karena itu, layanan BK perlu diperkuat melalui program-program preventif seperti pendidikan karakter, literasi digital, kesehatan mental, pengembangan keterampilan sosial, serta pendampingan karier.
Menurutnya, layanan tersebut akan membantu peserta didik memiliki ketahanan diri sekaligus kesiapan menghadapi dinamika kehidupan di masa depan.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Reka menegaskan keberhasilan pembangunan karakter tidak dapat dibebankan kepada guru BK semata.
Kepala sekolah, guru mata pelajaran, orang tua, dan masyarakat harus memiliki visi yang sama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat secara psikologis, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Sinergi seluruh ekosistem pendidikan menjadi fondasi penting agar nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah dapat diperkuat di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Membangun Peradaban dari Sekolah
Di akhir tulisannya, Reka mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk mengubah paradigma terhadap layanan BK.
Menurutnya, BK bukan ruang untuk menghukum peserta didik yang bermasalah, melainkan ruang untuk menumbuhkan harapan, membangun karakter, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan generasi yang berintegritas dan berakhlak mulia.
“Pendidikan yang hanya mengejar prestasi akademik akan melahirkan generasi yang kompetitif, tetapi belum tentu berintegritas. Sebaliknya, pendidikan yang memberi ruang bagi pembentukan karakter akan melahirkan manusia yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat. Dari manusia-manusia seperti itulah peradaban yang unggul akan lahir,” pungkasnya.
Penulis Opini:
Reka Nova, S.Pd
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA Negeri 1 Air Gegas sekaligus Mahasiswa Program Magister (S2) Universitas Ahmad Dahlan.















