Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
BangkaOpiniPolitik

Pilkada Ulang Bangka: Pertarungan Gengsi Partai dan Arah Baru Kepemimpinan Lokal

×

Pilkada Ulang Bangka: Pertarungan Gengsi Partai dan Arah Baru Kepemimpinan Lokal

Sebarkan artikel ini
Opini Eddy Supriadi, M.Pd – Pengamat Politik dan Pemerintah Daerah: "Dominasi simbol partai di ruang publik jelang Pilkada ulang Kabupaten Bangka menunjukkan bahwa mesin politik sedang dipanaskan. Namun yang terpenting, masyarakat harus cerdas menilai rekam jejak, visi misi, dan integritas calon, bukan hanya berdasarkan warna bendera.

Oleh: Eddy Supriadi,M.Pd – Pengamat Politik dan Pemerintahan Daerah

BANGKA – Pilkada ulang di Kabupaten Bangka menjadi panggung menarik bagi pertarungan politik yang lebih besar dari sekadar elektoral. Ia adalah momentum menguji soliditas partai, etika elit lokal, dan arah baru yang hendak ditawarkan kepada masyarakat. Pasca kekalahan mengejutkan dari “kotak kosong”, PDIP dan poros lainnya kini berada dalam tekanan untuk menunjukkan bahwa mereka pantas dipercaya kembali oleh rakyat.

PDIP Masih Dominan, Tapi Tak Kebal Retak Internal

PDIP dikenal sebagai kekuatan lama yang mapan di Bangka. Dengan basis ideologis dan struktur hingga tingkat desa, partai ini tetap unggul dalam Pileg 2024. Namun, kekalahan memalukan dari kotak kosong menunjukkan adanya masalah serius dalam konsolidasi internal. Pilkada ulang ini menjadi taruhan besar bagi PDIP: menjaga loyalitas kader, memperkuat regenerasi, dan keluar dari jebakan pragmatisme politik.

Poros Lain Bergerak: Golkar dan Gerindra Siap Tantang Dominasi

Golkar melihat peluang besar setelah kemenangan Prabowo-Gibran di Bangka Belitung. Dengan figur seperti Firmansyah Levi dan Mendra Kurniawan, partai ini tampil dengan pendekatan teknokratis dan ramah pengusaha. Gerindra pun mendorong nama-nama seperti Rozali dan Feri Insani dua tokoh birokrasi yang memiliki dukungan kuat dari ASN dan tokoh adat.

Sementara itu, Imam Wahyudi muncul sebagai representasi kader muda PDIP yang punya magnet tersendiri di kalangan milenial. Jika digandengkan dengan tokoh senior seperti Mulkan, kombinasi ini bisa menjadi solusi atas dilema regenerasi.

Etika dan Moralitas: Pilkada Bukan Sekadar Transaksi Politik

Putusan Mahkamah Konstitusi soal Pilkada ulang bukan hanya yuridis, tapi juga etis. Kekosongan pilihan sebelumnya adalah bentuk protes diam masyarakat terhadap praktik kekuasaan yang tak memberi harapan. Maka, partai politik kini ditantang menghadirkan calon yang bersih, akuntabel, dan mampu menjalankan tata kelola pemerintahan secara transparan.

Publik tak lagi tertarik pada kampanye kosong atau baliho besar. Mereka menuntut pemimpin yang hadir dalam kehidupan rakyat, bukan hanya saat menjelang pemilu.

Poros dan Skema Koalisi: Siapa Menggandeng Siapa?

Peta politik di Bangka makin kompleks. PDIP bisa tampil dominan dengan opsi Mulkan–Imam atau Imam–Rozali. Gerindra bisa masuk dalam skema koalisi nasionalis bersama PDIP atau membentuk poros sendiri. Golkar menawarkan wajah segar dan strategi eksekutif yang lebih teknokratis. Sementara poros alternatif (PKS–NasDem–Demokrat) meski punya infrastruktur terbatas, tetap punya peluang sebagai penentu atau kuda hitam.

Publik Kritis, Elit Harus Introspeksi

Yang patut dicatat, rakyat Bangka hari ini tidak lagi mudah digiring oleh jargon dan baliho. Mereka makin kritis, cermat, dan lelah dengan politik transaksional. Mereka ingin pemimpin yang memahami persoalan daerah, berani mengambil kebijakan progresif, dan hidup bersama rakyat bukan di atas rakyat.

Pilkada ulang ini bisa menjadi tonggak arah baru kepemimpinan Bangka. Tapi hanya jika para elit politik menanggalkan ego, menjunjung etika, dan benar-benar menghadirkan harapan baru bagi masyarakat.(red/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *