Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
BabelArtikelBangka Selatan

Dulu Digadang Hebat, Kini Nasib Pelabuhan Sadai Dipertanyakan?

×

Dulu Digadang Hebat, Kini Nasib Pelabuhan Sadai Dipertanyakan?

Sebarkan artikel ini
Foto: Gerbang malam Pelabuhan Penyeberangan Sadai Kecamatan Tukak Sadai Kabupaten Bangka Selatan, sunyi di tengah harapan besar yang tertunda?

ARTIKEL,DJITUBERITA.COM – Di ujung selatan Pulau Bangka, Kecamatan Tukak Sadai sempat menjadi buah bibir nasional. Kawasan ini, dengan Pelabuhan Sadai sebagai porosnya, pernah digadang sebagai simpul maritim strategis Indonesia bagian barat.

Tak hanya karena posisinya yang menghadap langsung ke Selat Bangka jalur pelayaran internasional yang ramaI, tetapi juga karena mimpi besar menjadikannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Namun kini,setelah berbagai proyek awal diresmikan, Pelabuhan Sadai seperti kehilangan gaungnya. Janji industrialisasi, geliat ekspor, dan dorongan infrastruktur yang dahulu diagung-agungkan, kini justru berbalik menjadi tanda tanya besar?

Terlebih lagi, arah pembangunan perlahan mulai bergeser ke wilayah tengah pulau, yakni Kabupaten Bangka Tengah, yang dianggap lebih dekat dengan konektivitas ke pusat provinsi kepulauan Bangka Belitung

Dari Harapan Menjadi Tanda Tanya?

Dulunya, Pelabuhan Sadai masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui dukungan pemerintah pusat dan daerah. Kawasan Industri Sadai (KI-Sadai) dirancang menjadi magnet investasi, diperkuat dengan peresmian pembangkit listrik biomassa 10 MW pada Juli 2024 sebagai solusi energi kawasan industri.

Secara geografis, letaknya dinilai unggul karena dekat dengan pelabuhan besar seperti Belawan dan Singapura, sehingga dinilai strategis untuk logistik, ekspor hasil laut, dan komoditas pertanian Bangka Belitung.

Namun seiring waktu, realitas tak sejalan dengan ekspektasi. Di lapangan, aktivitas di pelabuhan masih minim. Beberapa dermaga terlihat lengang, jalur distribusi belum terintegrasi dengan baik, dan kawasan industri yang dirancang sebagai tulang punggung belum sepenuhnya terbangun.

Fasilitas pendukung, mulai dari jalan akses hingga pusat logistik, juga belum memadai. Padahal, masyarakat setempat sudah menaruh harapan besar akan terbukanya lapangan kerja dan peningkatan ekonomi lokal.

Akar Historis dan Filosofis yang Mulia:

Nama “Sadai” diyakini berasal dari istilah lokal yang berarti tempat singgah atau beristirahat. Sejak zaman kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini sudah dikenal sebagai titik transit kapal niaga dan nelayan. Bahkan dalam catatan lama logistik timah dan rempah-rempah, Sadai sudah termasuk dalam jalur penting.

Secara filosofis, masyarakat lokal memandang Sadai sebagai titik keseimbangan antara darat dan laut di mana pertanian dan kelautan hidup berdampingan. Sayangnya, filosofi ini belum menemukan relevansi dalam konteks pembangunan modern yang dijanjikan.

Pernyataan Gubernur: Alih Fokus ke Belinyu dan Bangka Tengah

Pada Mei 2025, Gubernur Bangka Belitung, Hidayat Arsani, mengumumkan kebijakan pengalihan sementara aktivitas ekspor-impor dari Pelabuhan Pangkalbalam yang mengalami pendangkalan alur pelayaran. Fokus pengalihan diarahkan ke Pelabuhan Sadai dan Pelabuhan Belinyu.

Namun menariknya, dalam pengembangan lanjutan, arah kebijakan mulai menunjukkan kecenderungan bergeser ke wilayah tengah pulau, khususnya Bangka Tengah. Dengan keberadaan Bandara Depati Amir, akses jalan nasional yang memadai, serta kawasan industri Ketapang yang lebih siap infrastruktur, Bangka Tengah dinilai lebih feasible untuk investasi jangka pendek dan menengah.

Beberapa media lokal bahkan menyebut Bangka Tengah sebagai “zona cepat tanggap pembangunan” dibandingkan wilayah selatan seperti Sadai.

Dukungan Politik dan Kepentingan Ekonomi Baru:

Rencana gubernur mendapat dukungan politik, seperti dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat Dapil Bangka Selatan yang melihat potensi besar jika Sadai difungsikan optimal.

Namun, dengan pergeseran arah pembangunan, dukungan ini tampak berbalik menjadi tekanan terhadap pemerintah provinsi untuk memberikan kepastian arah pembangunan.

Sementara itu, di Bangka Tengah, berbagai agenda pembangunan baik infrastruktur pelabuhan, kawasan industri, maupun penguatan logistik darat berjalan lebih cepat. Investasi swasta juga tampak lebih tertarik pada lokasi yang sudah memiliki konektivitas udara dan pelayaran yang lebih mapan.

Sadai: Simbol Ambisi yang Terlupakan?

Apa yang dulunya merupakan simbol harapan kini tampak seperti proyek setengah jadi. Meski memiliki potensi besar, Sadai belum memiliki roadmap pembangunan yang jelas dan berkelanjutan.

Belum adanya sinergi konkret antara pemerintah pusat, daerah, dan swasta membuat proyek ini stagnan. SDM lokal pun belum dibekali secara menyeluruh untuk menyambut industri berbasis maritim yang dijanjikan.

Pertanyaannya kini semakin menguat: apakah Pelabuhan Sadai masih menjadi bagian dari prioritas nasional, atau telah digeser posisinya oleh agenda ekonomi baru yang lebih pragmatis di wilayah lain?

Sadai tak hanya butuh investasi fisik, tapi juga kepastian visi. Jika tidak, ia hanya akan menjadi nama di peta bukan sebagai simpul konektivitas maritim seperti yang dahulu diimpikan, melainkan sebagai catatan ambisi yang kandas di tengah jalan.(red/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *