Artikel Satir – Di era algoritma dan notifikasi yang berdenting tanpa jeda, lahirlah satu figur baru dalam lanskap peradaban digital: Abu Nawas versi modern bukan penyair istana, melainkan peracik kegaduhan profesional.
Tangannya tak lagi menggenggam pena, tetapi menggenggam timeline. lisannya tidak lagi melantunkan syair, melainkan meramu thread panjang bernada “katanya” dan “viral katanya”.
Ia bukan sembarang pemain. Ia grandmaster di papan catur opini.
Like dijadikan pion. Share diposisikan sebagai kuda.
Komentar panas disiapkan menjadi gajah penikam dari sudut gelap ruang publik.
Masyarakat sering tak sadar: mereka bukan penonton, melainkan bidak.
Strateginya klasik, tapi mematikan potong konteks, peras emosi, lalu suguhkan kepalsuan seolah ia satu-satunya penjaga akal sehat.
Ia paham satu hukum mutlak dunia digital. Amarah berjalan lebih cepat dari klarifikasi. Maka data tak penting. Bukti tak prioritas. Yang utama hanyalah satu hal “kegaduhan”
Ia tak menyebut dirinya seorang provokator ulung . Itu terlalu jujur.
Ia memilih gelar yang lebih mulia, sebagai pengamat independen suara rakyat atau di beri julukan pembuka mata publik.
Padahal pekerjaannya tak lebih dari mengaduk air keruh, lalu menjualnya sebagai mata air.
Paling ironis, publik tak pernah menjadi raja dalam permainannya.
Bukan menteri. Bukan benteng.
Mereka hanya pion yang dengan sukarela melangkah ke depan, demi membela narasi yang bahkan tak mereka verifikasi.
Ketika klarifikasi datang, ia tak gentar.
Ia tinggal menggerakkan bidak pamungkas.
“Ada kekuatan besar yang membungkam saya.”
Drama adalah ratunya.
Fitnah kudanya.
Dan publik tetap pion yang merasa dirinya raja.
Beginilah potret Abu Nawas di abad algoritma. Bukan lagi penggugat istana, melainkan pedagang kegaduhan.
Bukan melawan kebodohan, tapi mengkapitalisasinya.
Di tangannya, kebenaran hanyalah bidak cadangan sering sebagai senjata pamungkas, konsep manajemen konflik ke papan seluncur catur dan piawai mengatur strategi skakmat pion menghajar sang raja.(red)















