Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
ArtikelBerita UtamaEditorial Khusus

Makin Bobroknya Negeri Ini: Ketika Korupsi Menjadi Tontonan, Masihkah Generasi Emas 2045 Bisa Diharapkan?

×

Makin Bobroknya Negeri Ini: Ketika Korupsi Menjadi Tontonan, Masihkah Generasi Emas 2045 Bisa Diharapkan?

Sebarkan artikel ini
Gambar Istimewa

DJITUBERITA.COM, EDITORIAL – Satu per satu tabir korupsi tersibak. Hampir setiap pekan publik disuguhi kabar operasi tangkap tangan, penggeledahan, penetapan tersangka, hingga penyitaan uang dan aset bernilai fantastis.

Korupsi seolah tak lagi mengenal batas. Ia tidak memandang jabatan, pangkat, profesi, suku, ras, maupun agama. Semua bisa tergoda ketika integritas dikalahkan oleh keserakahan.

Ironisnya, negeri yang sedang bercita-cita menyongsong Generasi Emas 2045 justru mempertontonkan panggung yang dipenuhi aktor-aktor berwajah terhormat, tetapi bermental pengkhianat terhadap amanah rakyat.

Anak-anak bangsa hari ini tidak hanya belajar dari buku pelajaran. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar. Ketika yang tampil di layar adalah parade pejabat berseragam rompi tahanan, bagaimana mungkin mereka percaya bahwa kejujuran masih menjadi jalan menuju kesuksesan?

Korupsi bukan lagi sekadar kejahatan keuangan negara. Ia telah menjadi krisis moral. Yang dicuri bukan hanya uang rakyat, tetapi juga harapan, kepercayaan, dan masa depan generasi berikutnya.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian pelaku masih mampu tersenyum di depan kamera. Ada yang melambaikan tangan, ada yang tetap bergaya layaknya selebritas. Seakan-akan rasa malu telah menjadi barang langka dalam kehidupan berbangsa.

Di tengah gencarnya aparat penegak hukum membongkar berbagai kasus besar, publik tentu mengapresiasi langkah tersebut. Namun, pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti pada penangkapan. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang mampu mencegah lahirnya koruptor baru, memperkuat pengawasan, serta menghadirkan efek jera yang nyata.

Kondisi ini juga tercermin dari penurunan skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia, yang menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah dalam memperbaiki tata kelola pemerintahan dan memperkuat integritas lembaga negara.

Pertanyaan besarnya kini sederhana namun mengusik nurani, masihkah Generasi Emas 2045 dapat diwujudkan jika generasi hari ini terus disuguhi contoh buruk dari para pemegang kekuasaan?

Generasi Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari pembangunan infrastruktur yang megah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, atau gizi yang terpenuhi. Generasi emas hanya dapat terwujud jika dibangun di atas fondasi akhlak yang mulia, moral yang sehat, integritas yang kokoh, serta keteladanan dari para pemimpinnya.

Generasi emas lahir dari keteladanan, kejujuran, dan keberanian mengatakan tidak terhadap korupsi.

Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak runtuh karena miskin sumber daya alam. Bangsa runtuh ketika kehilangan integritas, sementara korupsi dibiarkan menjadi budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Korupsi bukan sekadar musuh negara. Ia adalah pencuri masa depan anak bangsa. Dan ketika masa depan terus dicuri, yang tersisa hanyalah mimpi tentang Indonesia Emas tanpa pernah benar-benar menjadi kenyataan.

Semoga semua rangkaian demi sedikit rangkaian tragedi bobroknya akhlak generasi hari ini, menjadi cermin untuk berbenah, bukan sekadar tontonan yang berlalu tanpa makna. Harapan bagi negeri ini masih tetap ada, selama kejujuran dijunjung sebagai teladan, hukum ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu, serta akhlak, moral, dan integritas kembali menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Sebab masa depan bangsa tidak hanya dibangun dengan kecerdasan, tetapi juga dengan keteladanan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *