JAKARTA,DJITUBERITA – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama NU yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026, Kornas Poros Muda NU mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk lebih selektif dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi lima tahun ke depan.
Melalui Ketua Umumnya, Ramadan Isa, Poros Muda NU menyampaikan sejumlah catatan evaluatif terhadap kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021–2026. Menurutnya, berbagai program strategis dan gagasan besar yang pernah dicanangkan belum terealisasi secara maksimal.
Selain itu, konsolidasi internal organisasi dinilai masih belum kuat, sementara respons organisasi terhadap berbagai dinamika sosial-keagamaan maupun politik nasional dianggap belum optimal.
“Penilaian ini bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai bahan evaluasi mendalam agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang. Lima tahun terakhir harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh elemen NU,” ujar Ramadan Isa dalam keterangan tertulis kepada redaksi Djituberita.com Sabtu (30/5/2026).
Ramadan menegaskan, Muktamar ke-35 NU merupakan momentum penting yang akan menentukan arah organisasi ke depan. Karena itu, proses pemilihan kepemimpinan harus dilakukan secara cermat dengan mengedepankan kapasitas, integritas, dan komitmen terhadap jam’iyyah.
Menurutnya, Ketua Umum PBNU yang akan datang tidak cukup hanya mengandalkan popularitas atau faktor keturunan. Sosok pemimpin yang dibutuhkan adalah figur yang memiliki visi besar, peta jalan organisasi yang jelas, keberanian mengambil keputusan strategis, serta kemampuan menyatukan seluruh elemen NU dari tingkat akar rumput hingga pusat.
“Ketua Umum PBNU mendatang harus mampu menyatukan seluruh lapisan NU menjadi kekuatan kolektif yang solid serta membawa organisasi lebih maju dan berdaya guna bagi umat,” tegasnya.
Poros Muda NU juga menekankan pentingnya mengembalikan NU pada jati dirinya sebagai gerakan sosial-keagamaan yang mandiri, berpihak kepada kepentingan umat, serta konsisten menjaga tradisi dan nilai-nilai Islam Nusantara.
“Kami akan mengawal proses untuk memastikan muktamar dilaksanakan secara bermoral sehingga dapat menghasilkan pemimpin dengan keilmuan, akhlak, komitmen, serta keberpihakan terhadap kepentingan jam’iyyah yang tidak perlu dipertanyakan.
NU adalah kompas moral bangsa, sehingga kepemimpinan di dalamnya harus lahir dari proses yang baik dan benar,” kata Ramadan.
Poros Muda NU menyatakan akan berpartisipasi aktif mengawal seluruh tahapan persiapan hingga pelaksanaan Muktamar ke-35. Organisasi tersebut juga berkomitmen menyuarakan aspirasi generasi muda Nahdliyin serta mendorong lahirnya kepemimpinan yang mampu memperkuat persatuan internal, memajukan organisasi, dan memperbesar kontribusi NU bagi bangsa dan negara.(red)















