Bangka Belitung – Bahasa Indonesia tak sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi penting dalam membangun relasi antara institusi dan publik, terutama dalam praktik public relations (PR) dan branding. Dalam konteks komunikasi strategis, bahasa menjadi kekuatan simbolik yang mampu membentuk persepsi dan memperkuat identitas.
Menurut pandangan Shelomita Annaya, mahasiswi Universitas Bangka Belitung, Bahasa Indonesia menyimpan kekuatan luar biasa untuk menjangkau hati masyarakat. Dalam PR, pemilihan kata menjadi krusial. Bahasa Indonesia yang lugas namun kaya makna sangat efektif dalam menyusun pernyataan pers, meredam krisis, hingga membangun narasi kebijakan.
“Ketika institusi mampu berkomunikasi dalam bahasa yang dipahami dan dirasakan publik, maka kepercayaan pun tumbuh lebih kuat,” tulisnya.
Dalam dunia branding, kekuatan Bahasa Indonesia tampak dalam slogan atau kampanye yang membumi. Kata-kata yang otentik dan sesuai dengan konteks sosial terbukti ampuh memperkuat citra merek. Banyak merek lokal berhasil membangun kedekatan emosional dengan konsumen berkat keberanian menggunakan bahasa yang akrab dan tidak kaku.
Media sosial juga mengubah pola komunikasi publik. Audiens kini lebih aktif, kritis, dan responsif. Di sinilah Bahasa Indonesia menunjukkan fleksibilitasnya, dari gaya formal hingga gaya santai, bahkan humoris. Istilah gaul dan plesetan kreatif menjadi senjata penting untuk menjangkau generasi muda.
Namun, tantangan tetap ada. Istilah asing kerap dianggap lebih modern di lingkungan profesional, menempatkan Bahasa Indonesia pada posisi tersisih. Padahal, konsep komunikasi strategis dapat dijelaskan dengan efektif dan berdaya sentuh tinggi melalui bahasa nasional ini.
Shelomita menekankan pentingnya kesadaran bahasa di kalangan praktisi komunikasi, lembaga pendidikan, dan institusi negara. Ia mendorong adanya kebijakan dan kurikulum yang memberi ruang lebih luas bagi penguatan Bahasa Indonesia di ranah strategis.
“Bahasa Indonesia adalah aset. Digunakan dengan kreatif dan profesional, ia mampu membangun kedekatan, menciptakan kepercayaan, dan memperkuat identitas lembaga di tengah kompetisi komunikasi yang makin kompleks,” tutupnya.(*)















