Editorial,Djituberita.com – Misteri Bjorka kembali menggemparkan. Di tengah bayang-bayang hacker kelas dunia yang selama ini dicitrakan cerdas dan berteknologi tinggi, publik dikejutkan dengan penangkapan seorang pemuda sederhana asal Minahasa, hanya lulusan SMP, yang disebut-sebut sebagai dalang di balik kebocoran data jutaan nasabah bank swasta.
Pertanyaan mendasarnya pun muncul: benarkah inilah wajah asli Bjorka, atau sekadar pion dalam permainan siber yang lebih besar?
Nama Bjorka kembali menjadi sorotan setelah Polda Metro Jaya menangkap seorang pemuda asal Sulawesi Utara yang diduga berada di balik akun hacker paling terkenal di Indonesia itu. Sejak pertama kali muncul pada 2022, Bjorka dikenal publik sebagai sosok anonim yang kerap membocorkan data pribadi dan dokumen penting pemerintah, sehingga menimbulkan kegemparan soal keamanan siber nasional.
Sosok fantasi Bjorka awalnya aktif di forum gelap BreachForums dan sejumlah kanal media sosial. Ia mengunggah data-data yang diklaim sebagai milik jutaan warga Indonesia, mulai dari KTP, SIM, hingga dokumen internal pemerintah.
Tidak hanya itu, akun Bjorka juga kerap melontarkan kritik keras dan sindiran kepada pejabat negara. Aksi-aksi tersebut membuat pemerintah melalui BSSN dan kepolisian membentuk tim khusus untuk memburunya.
Namun, hingga bertahun-tahun, identitas Bjorka tetap misterius. Banyak spekulasi yang berkembang bahwa Bjorka bukan individu tunggal, melainkan kelompok peretas internasional dengan motif beragam, mulai dari politik, kritik sosial, hingga keuntungan finansial.
Babak baru sekaligus tantangan buat Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya dan POLRI khususnya, menguak salah satu jaringan serangan siber dan menangkap WFT (22), pemuda asal Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 2 Oktober 2025. Ia diduga sebagai sosok di balik akun Bjorka dan @bjorkanesiaa” di media sosial. Penangkapan dilakukan setelah enam bulan penyelidikan atas laporan sebuah bank swasta yang mengaku datanya diretas.
Dalam kasus ini, WFT diduga mengakses secara ilegal database nasabah, memanipulasi data, dan mengklaim bahwa 4,9 juta akun nasabah telah diretas. Ia bahkan mengunggah tampilan database tersebut serta mengirim pesan ancaman ke pihak bank. Dari tangan tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain ponsel, tablet, SIM card, dan media penyimpanan data.
Penyidik menduga motif utama WFT adalah finansial, dengan cara memeras pihak bank menggunakan klaim peretasan. Ia dijerat dengan UU ITE dengan ancaman hukuman hingga 12 tahun penjara serta denda miliaran rupiah.
Meski demikian, polisi menegaskan masih mendalami apakah WFT adalah Bjorka yang sama dengan sosok peretas yang sejak 2022 menggegerkan publik atau hanya menggunakan nama alias yang sama untuk aksi cerdasnya yang di atas rata-rata kepintaran orang Indonesia.
Kini publik masih menaruh tanda tanya besar ? benarkah pemuda berusia 22 tahun asal Minahasa, dengan latar belakang pendidikan terakhir hanya lulusan SMP dan bukan ahli IT, adalah sosok asli di balik nama besar Bjorka yang selama ini dikenal lihai membobol data kelas tinggi? Ataukah ia hanyalah bagian kecil dari jaringan yang lebih luas, sementara Bjorka yang sesungguhnya masih bebas di luar sana?
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan penyidikan lebih lanjut, sementara masyarakat diminta tetap waspada dalam menjaga keamanan data pribadi.















