Oleh: Nezya Syarifah, Yulita Maharani Br Barus, Naca Riski Amelia
Mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung (UBB)
Bangka Belitung – Kenaikan harga bahan pokok di sejumlah wilayah Bangka Belitung dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren signifikan. Sejumlah komoditas seperti ikan, udang, cabai, serta kebutuhan dapur lainnya mengalami lonjakan harga hingga hampir 40 persen. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada daya beli, tetapi juga mengubah pola konsumsi masyarakat secara luas.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, kenaikan harga tidak terjadi secara sporadis di satu titik pasar, melainkan merata di berbagai wilayah. Hal ini mengindikasikan bahwa lonjakan harga bahan pokok bukan sekadar fenomena lokal, melainkan persoalan struktural yang berkaitan dengan distribusi dan sistem perdagangan.
Seorang pedagang ikan di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi secara drastis dan cenderung sulit kembali stabil. Namun demikian, ia mengaku tidak terlalu terdampak secara langsung. Kenaikan harga modal masih dapat diimbangi melalui penyesuaian harga jual, sehingga margin keuntungan relatif terjaga.
Selain itu, pola distribusi yang melibatkan tengkulak sebagai pembeli utama turut menjaga stabilitas perputaran barang. Dalam kondisi ini, meskipun harga meningkat, aktivitas perdagangan tetap berlangsung tanpa penurunan signifikan.
Berbanding terbalik dengan pedagang, masyarakat sebagai konsumen akhir justru merasakan tekanan yang lebih berat. Seorang ibu rumah tangga mengungkapkan bahwa harga bahan pokok seperti cabai, bawang, ayam, dan ikan kini semakin sulit dijangkau. Ia terpaksa lebih selektif dalam mengelola pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Dalam situasi tersebut, masyarakat kecil sering kali tidak memiliki alternatif selain tetap membeli kebutuhan pokok, meskipun dengan harga yang lebih tinggi. Ketersediaan barang bahkan menjadi prioritas utama dibandingkan keterjangkauan harga.
“Yang penting barang tetap tersedia daripada tidak ada sama sekali, walaupun harganya naik,” mereka.
Lebih lanjut, kondisi ini dinilai semakin memberatkan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan tidak tetap. Kekhawatiran akan kenaikan harga berulang, terutama menjelang hari besar, turut memperkuat rasa ketidakpastian ekonomi di tingkat rumah tangga.
Perbedaan dampak antara pedagang dan konsumen menunjukkan adanya ketimpangan dalam rantai distribusi bahan pokok. Pedagang memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan harga dan menjaga stabilitas keuntungan, sementara konsumen akhir tidak memiliki ruang yang sama untuk beradaptasi terhadap lonjakan harga.
Pada akhirnya, kenaikan harga bahan pokok tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak, seperti penguatan sistem distribusi, pengawasan harga di pasar, serta perlindungan terhadap masyarakat rentan.
Tanpa intervensi yang tepat, tren kenaikan harga berpotensi memperdalam tekanan ekonomi dan memperlebar kesenjangan, terutama bagi kelompok masyarakat yang paling terdampak.















