Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita NasionalJakarta

Forum Pemerhati Bangsa Soroti Penyebab Radikalisme: Pancasila Dinilai Hanya Jadi Slogan

×

Forum Pemerhati Bangsa Soroti Penyebab Radikalisme: Pancasila Dinilai Hanya Jadi Slogan

Sebarkan artikel ini
Foto Istimewa

Jakarta – Forum Pemerhati Bangsa menyoroti meningkatnya radikalisme dan intoleransi di Indonesia yang dinilai berkembang karena Pancasila lebih banyak dijadikan slogan ketimbang pedoman hidup. Fenomena ini menjadi fokus dialog publik bertema “Ideologi Pancasila dalam Benturannya dengan Paham Radikal dan Intoleran di Indonesia” yang digelar pada Sabtu, 15 November 2025, secara virtual melalui aplikasi Zoom.

Sekitar 30 peserta dari berbagai organisasi masyarakat hadir dalam diskusi tersebut, antara lain Forum Anti Penindasan, Forum Tanah Air, Pemuda Tangerang Raya, Papua TV, HMI MPO, dan HMI UNAS.

Pegiat kebangsaan Mahadir, selaku pembicara utama, menyampaikan bahwa radikalisme dan intoleransi tumbuh subur akibat kegagalan masyarakat menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata.

> “Radikalisme dapat tumbuh ketika seseorang mengklaim diri paling Pancasilais, namun dalam praktiknya menolak keberadaan kelompok lain,” ujar Mahadir.

Menurutnya, banyak pihak hanya menjadikan Pancasila sebagai simbol identitas, bukan pedoman moral dan etis. Ia menekankan bahwa Pancasila seharusnya dipahami sebagai nilai hidup bersama yang menuntut keterbukaan, toleransi, dan penghargaan atas keberagaman.

Mahadir juga mengingatkan bahwa infiltrasi ideologi transnasional semakin memperkuat tantangan, terutama melalui ruang digital yang mudah memengaruhi opini publik.

“Narasi pemecah belah semakin intensif dan dapat melemahkan ikatan kebangsaan jika tidak ditangani secara preventif,” katanya.

Untuk itu, ia mendorong penguatan ruang dialog inklusif agar masyarakat memiliki saluran sehat dalam berkomunikasi dan bertukar gagasan.

Di sisi lain, perwakilan Pemuda Forum Tanah Air, Razak, menegaskan peran vital generasi muda dalam menjaga stabilitas kebangsaan. Ia melihat globalisasi sebagai tantangan yang dapat mengikis nilai kebersamaan dan mendorong individualisme.

“Keberagaman Indonesia merupakan kekuatan yang harus dikelola melalui sikap saling menghormati,” ujarnya.

Razak menilai, intoleransi kerap muncul ketika perbedaan tidak dikelola dengan baik atau ruang dialog tertutup. Oleh karena itu, ia mendorong pemuda menjadi penggerak ruang diskusi sehat di berbagai lini, termasuk kampus, komunitas, hingga platform digital.

Menurutnya, wadah kegiatan yang inklusif menjadi kunci untuk mencegah perasaan terpinggirkan di kalangan anak muda.

“Menjaga nilai Pancasila harus melalui tindakan nyata yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan dan semangat gotong royong,” tegasnya.15 November 2025

Diskusi berlangsung dinamis, terutama saat sesi tanya jawab. Salah satu peserta, Febrianti Karepowan, mempertanyakan apakah intoleransi bisa muncul meski seseorang merasa paling Pancasilais.

Merespons hal itu, Mahadir menegaskan:

“Intoleransi bisa terjadi jika Pancasila dipahami secara sempit, hanya pada simbol, bukan pada praktik sosial.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *