Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Artikel

Abu Nawas dan Kursi Kekuasaan Berlapis Janji

×

Abu Nawas dan Kursi Kekuasaan Berlapis Janji

Sebarkan artikel ini
Foto/Istimewa

Prolog: Dongeng Negeri 1001 Janji

Alkisah, di sebuah negeri yang setiap tiangnya bersandar pada kata-kata, dan setiap jalannya dibangun dari janji yang tak pernah ditagih, hiduplah seorang lelaki yang lebih dicari dari penasihat kerajaan, namun tak pernah punya mahkota.

Namanya Abu Nawas

Ia bukan pejabat, bukan bangsawan, bukan pula penyihir. Tapi di Negeri 1001 Janji, ia adalah satu-satunya manusia waras di tengah gemuruh pesta kekuasaan. Negeri itu tidak kekurangan pemimpin, tapi sangat kekurangan kebenaran.

Musim Janji Telah Tiba:

Setiap lima tahun sekali, negeri ini berubah wajah. Jalan-jalan berlubang mendadak ditambal, bukan dengan aspal, tapi dengan bendera dan baliho. Pasar-pasar yang biasanya becek, kini dipenuhi orang bersetelan jas, memeluk pedagang sambil tersenyum untuk kamera.

Orang-orang menyebut masa ini: Musim Janji.

Dan di puncak musim itu, datanglah seorang  bak pangeran ke rumah Abu Nawas. Ia sangat gagahnya, bergelimang harum kasturi, jubahnya menjuntai seperti awan, namun hatinya jauh dari aroma tanah dan peluh rakyat.

“Wahai Abu Nawas,” katanya dengan suara lembut penuh ego,

Ajari aku cara merebut hati rakyat. Aku ingin menjadi Wali Negeri. Tapi… bolehkah aku tak perlu mengerti isi perut mereka?

Abu Nawas tak menjawab cepat. Ia menatap langit malam dari jendela warung tehnya yang reyot. Lalu, sambil mengaduk teh dengan sendok bengkok, ia menjawab:

Pangeran, janji adalah seni. Janjikanlah hal yang belum pernah dijanjikan. Sekolah dari emas, rumah gratis di atas awan, atau sungai zam-zam di belakang pasar. Bukan soal bisa atau tidak. Yang penting, telinga rakyat kenyang sebelum perut mereka terisi.

Pangeran terkesiap. Tapi ia mencatat semua itu. Dengan tinta emas di lembar kertas kosong.

Hari pemilihan pun tiba:

Rakyat berbondong-bondong ke tenda suara. Mereka memakai pakaian terbaik yang mereka punya. Mereka percaya, walau hanya sebentar, bahwa suara mereka punya harga.

Di kejauhan, Abu Nawas hanya tersenyum. Ia tak datang untuk mencoblos. Tapi ia mencatat:

Yang paling ramai bukanlah janji, tapi rakyat kebingungan memilih calon pemimpin yang paling sedikit berdusta.

Semua calon tampak suci. Wajah bersih, senyum lebar. Mereka mencium tangan nenek-nenek dan membelai kepala anak yatim. Tapi Abu tahu: begitu suara terkumpul, tangan-tangan itu akan memegang palu kekuasaan, bukan menggenggam harapan rakyat.

Kemenangan Pun Tiba:

Pangeran nan gagah itu menang.
Ia duduk di kursi empuk yang konon terbuat dari kayu surga. Tapi, siapa sangka, setiap lapis kursi itu ternyata berisi janji-janji yang belum ditepati. Dan tiap ia duduk, ada rasa nyeri yang menusuk, seperti duri yang ditanam oleh harapan rakyat.

Beberapa bulan kemudian, pangeran itu datang lagi pada Abu Nawas.

Wajahnya kini tak secerah dulu. Jubahnya tetap mewah, tapi suaranya gemetar.

“Wahai Abu Nawas… aku tak tahu harus berbuat apa. Rakyat mulai menagih janji. Mereka bertanya tentang sungai zam-zam yang tak mengalir, sekolah emas yang hanya muncul di spanduk. Apa yang harus kulakukan?”

Abu menatapnya dalam-dalam. Kali ini, tak ada senyum. Hanya hening yang panjang.

Tuan,” kata akhirnya,
“Kekuasaan itu bukan tempat tidur, tapi meja kerja. Kalau Tuan duduk di kursi hanya untuk menikmati keempukannya, maka janji-janji itu akan menjadi api yang membakar nama Tuan di kemudian hari.”

Rakyat di negeri ini mungkin diam… tapi mereka tidak bodoh. Mereka mencatat, walau tidak dengan pena. Mereka menyimpan, walau tidak dengan kertas.

Abu Nawas Tetap Abu Nawas:

Musim demi musim berlalu.
Penguasa datang dan pergi.
Poster kampanye berubah warna, tapi kalimatnya tetap sama: “Demi rakyat, untuk perubahan.”

Namun Abu Nawas tetap di warung tehnya. Tikarnya tetap lusuh, tapi pikirannya tajam.
Ia tidak mencalonkan diri, tidak pula mendaftar jadi menteri.
Sebab ia tahu:

Yang paling jujur bukanlah mereka yang bersumpah di atas mimbar,
tapi yang berani menertawakan kebohongan dari balik tikar tua.

Dan di setiap musim pemilihan, kisah Abu Nawas kembali diceritakan dari mulut ke mulut. Sebagai dongeng. Sebelum tidur dan lebih penting sebagai peringatan sebagai cermin buat diri sendiri.

Epilog: Hikmah dari Negeri yang Tak Pernah Lupa

Di negeri ini, lidah bisa menjanjikan surga, tapi kaki rakyat tetap berjalan di lumpur.

Di negeri ini, suara bisa dibeli,
tapi kepercayaan dan sejarah tak bisa dicetak ulang.

Dan suara Abu Nawas, meski pelan, tetap menggema:

Janji yang dibuat dengan lidah licin,
hanya akan menjerat lehernya sendiri saat rakyat mulai melek dan menagihnya.

Dongeng ini bukan hanya untuk tertawa, tapi untuk berpikir sehat.
Sebab yang paling berbahaya bukan pemimpin yang kejam, tapi pemimpin yang terlalu pandai berjanji.

~ Tamat ~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *