DJITUBERITA,JAKARTA – Potensi energi panas bumi geothermal dinilai dapat menjadi salah satu solusi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional sekaligus mengurangi risiko terjadinya pemadaman listrik berskala besar (blackout) di Indonesia.
Pandangan tersebut disampaikan Feiral Rizky Batubara, pengamat energi yang juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) serta Wakil Ketua Komite Tetap Perencanaan Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.
Baca Selengkapnya: PT Pertamina Geothermal Energy Percepat Pengembangan Energi Panas Bumi untuk Transisi Energi
Baca Selengkapnya: Empat Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Jadi Pemasok REC Nasional 2026, Kamojang Garut Terbesar
Baca Selengkapnya: Geothermal Tak Hanya Hasilkan Listrik, Garut Raup Rp137,8 Miliar untuk Infrastruktur
Menurut Feiral, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) memiliki karakteristik yang mampu menopang keandalan sistem kelistrikan karena dapat beroperasi secara stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada kondisi cuaca.
“Menurut saya, panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama sebagai bagian dari antisipasi risiko blackout. Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan mampu menjadi pembangkit beban dasar (baseload) dalam sistem kelistrikan,” kata Feiral dalam keterangannya yang diterima redaksi di Jakarta.
Baca Selengkapnya: PT Pertamina Geothermal Energy Raih Predikat Sapphire di IRCA 2026
Baca Selengkapnya: ADPPI Dorong Pemerintah Dana Panas Bumi Fokus Kesejahteraan Masyarakat dan Ekonomi Hijau
Baca Selengkapnya: Kajian Panas Bumi Pangrango Dinilai Penting, ADPPI Dukung Langkah Gubernur Dedi Mulyadi
Ia menjelaskan, meningkatnya kebutuhan listrik nasional harus diimbangi dengan pembangunan pembangkit yang memiliki tingkat keandalan tinggi. Dalam konteks tersebut, panas bumi dinilai memiliki keunggulan karena mampu memasok energi listrik secara berkelanjutan.
Namun demikian, Feiral menegaskan bahwa upaya mencegah blackout tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis teknologi pembangkit. Menurutnya, penguatan sistem kelistrikan harus dilakukan secara menyeluruh melalui kombinasi berbagai sumber energi yang saling melengkapi.
Indonesia Miliki Potensi Geothermal Terbesar
Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia. Potensi yang dimiliki diperkirakan mencapai sekitar 24 gigawatt (GW) atau hampir 40 persen cadangan panas bumi dunia.
Besarnya potensi tersebut menjadi modal strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung percepatan transisi menuju energi bersih.
Meski demikian, pemanfaatannya masih tergolong rendah. Dari total potensi sekitar 24 GW, kapasitas yang telah dimanfaatkan baru mencapai sekitar 2,7 GW atau sekitar 12 persen.
Feiral menilai peluang pengembangan masih sangat besar. Ia memperkirakan kebutuhan tambahan kapasitas sekitar 2,5 GW dalam satu dekade mendatang perlu direspons melalui percepatan pembangunan PLTP.
Sementara target pengembangan 5,2 GW yang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dinilai cukup ambisius, namun tetap sejalan dengan arah kebijakan transisi energi nasional.
Penguatan Infrastruktur Tak Bisa Dipisahkan
Menurut Feiral, pembangunan PLTP harus berjalan beriringan dengan penguatan jaringan transmisi dan distribusi listrik agar pasokan energi dapat disalurkan secara optimal ke seluruh wilayah.
Selain itu, sistem kelistrikan nasional juga perlu diperkuat melalui penambahan cadangan daya, pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), penyediaan pembangkit cadangan, digitalisasi jaringan listrik, serta diversifikasi sumber energi.
Di sisi lain, pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari tingginya investasi awal, persoalan keekonomian tarif, proses perizinan yang belum sepenuhnya efisien, hingga kesiapan infrastruktur jaringan listrik.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat dukungan kebijakan melalui skema pembagian risiko eksplorasi, penyediaan pembiayaan jangka panjang, penyederhanaan proses perizinan, serta sinkronisasi pembangunan pembangkit dengan pengembangan jaringan transmisi nasional.
“Kalau bicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, melainkan membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan daya yang memadai,” tegas Feiral.
Pengembangan energi panas bumi dinilai tidak hanya penting untuk meningkatkan bauran energi baru terbarukan, tetapi juga menjadi fondasi dalam mewujudkan sistem ketenagalistrikan Indonesia yang lebih andal, berkelanjutan, dan mampu memenuhi kebutuhan listrik nasional di masa depan,”pungkasnya.(Red/Tim)















