DJITUBERITA,BANDUNG – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 1 gigawatt (GW) pada 2028 sebagai bagian dari strategi mempercepat transisi energi nasional. Perseroan juga menyiapkan target jangka panjang dengan kapasitas terpasang mencapai 1,7 GW pada 2032.
Corporate Secretary PT Pertamina Geothermal Energy, Muhammad Taufik, mengatakan target tersebut didukung besarnya potensi sumber daya panas bumi yang dimiliki perusahaan di berbagai wilayah kerja.
“Kami punya target 1 gigawatt di tahun 2028 dan 1,7 gigawatt di tahun 2032. Itu target kami,” ujar Taufik saat ditemui di kawasan panas bumi Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, PGE telah memetakan potensi sumber daya panas bumi hingga sekitar 3 GW yang tersebar di seluruh Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola perusahaan. Potensi tersebut menjadi dasar pengembangan proyek-proyek PLTP secara bertahap.
“Seluruh wilayah kerja panas bumi PGE telah dipetakan dan memiliki potensi sumber daya hingga sekitar 3 gigawatt,” jelasnya.
Meski memiliki cadangan yang besar, pengembangan proyek tidak dilakukan sekaligus. Perseroan akan menyesuaikan pembangunan pembangkit dengan kebutuhan sistem kelistrikan nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025–2034.
Selain mempercepat pengembangan proyek, PGE juga memperkuat aspek pendanaan melalui skema green financing dari sejumlah lembaga keuangan internasional. Pendanaan tersebut telah memperoleh persetujuan pemerintah melalui mekanisme Green Book, sehingga menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung realisasi target ekspansi perusahaan.
“Pendanaan hijau yang telah disetujui pemerintah menjadi salah satu upaya kami untuk mencapai target-target pengembangan yang telah ditetapkan,” kata Taufik.
Hingga pertengahan 2026, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang mencapai 1.932 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, 727 MW dioperasikan langsung oleh PGE, sedangkan 1.205 MW berasal dari proyek kerja sama operasi (KSO).
Dengan dukungan potensi sumber daya sebesar 3 GW, pembiayaan hijau, serta pengembangan yang sejalan dengan RUPTL PLN, PGE optimistis dapat memperkuat kontribusi energi panas bumi sebagai salah satu tulang punggung energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Langkah ini juga diharapkan mampu meningkatkan ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbasis energi fosil.
Sumber: Beritageothermal.com















