EDITORIAL, DJITUBERITA.COM – Di negeri yang katanya kaya raya ini, ternyata jalan menuju sejahtera bukan lagi soal kerja keras, disiplin, atau sekolah tinggi. Itu teori lama. Buku motivasi saja mungkin sudah ogah membahasnya.
Kini rumus baru kehidupan jauh lebih sederhana, kalau tidak bermain abu-abu, siap-siap hidup lurus tapi ngos-ngosan.
Tokoh fiktif bernama Rojali Bin Samar mungkin bisa jadi contoh. Sejak muda ia dikenal terlalu jujur. Kalau jadi panitia, uang konsumsi tidak pernah menguap.
Kalau pegang proyek, semen benar-benar dipakai, bukan dicampur angin dan doa. Kalau diberi jabatan, ia sibuk bekerja, bukan sibuk mengatur fee.
Hasilnya tragis!, diusia hampir menginjak kepala lima Rojali masih mengemudi motor butut. Rumahnya belum dua lantai. Bahkan pagar rumahnya belum stainless.
Tetangga mulai curiga,
“Jangan-jangan dia memang tidak punya koneksi.”
Sementara itu, teman-temannya yang dulu sama-sama berangkat dari sandal swallow kini sudah sukses luar biasa.
Ada yang mendadak jadi kontraktor, padahal dulu menggambar garis lurus saja pakai penggaris miring.
Ada yang tiba-tiba jadi pengusaha BBM, meski dulu isi bensin saja sering ngutang.
Hebatnya lagi, mereka selalu tampil religius di media sosial. Caption-nya penuh kata syukur.
“Semua ini berkat kerja keras dan doa ibu.”
Tentu kita tidak boleh suudzon. Karena di negeri penuh keajaiban ini, mobil mewah memang tidak datang dari ketulusan hati akan tetapi dari proposal yang “dipahami bersama”.
Rojali sebenarnya pernah mencoba bertahan idealis. Ia percaya sistem akan menghargai orang bersih. Tapi sistem rupanya lebih menghargai orang fleksibel dalam tanda kutip sedikit nakal lah.
Terlalu lurus justru dianggap menghambat perputaran ekonomi.
“Kalau semua jujur, terus siapa yang bagi-bagi?”
Begitu kira-kira filosofi tidak tertulis yang beredar dari warung kopi sampai ruang berpendingin udara.
Ironisnya, masyarakat pun mulai ikut beradaptasi. Anak muda tak lagi bertanya bagaimana cara sukses, tapi bagaimana cara masuk lingkaran. Sebab di banyak tempat, kompetensi kalah cepat dibanding kedekatan.
Maka lahirlah generasi baru,
pandai senyum ke atas, tajam menekan ke bawah.
Dan lucunya, semua orang tahu permainan itu ada. Tapi selama masih kebagian remah, banyak yang memilih diam. Moral akhirnya hanya dipakai saat ceramah, bukan saat tanda tangan anggaran.
Rojali kini mulai paham. Di negeri penuh simbol ini, abu-abu bukan lagi warna. Ia sudah menjadi sistem kehidupan. Terlalu hitam dianggap melawan. Terlalu putih dianggap mengganggu.
Karena itu, orang-orang seperti Rojali perlahan jadi spesies langka? jujur tapi tidak viral, bersih tapi tidak kaya.
Lalu publik bertanya,
kenapa korupsi tak pernah benar-benar mati?
Mungkin karena sebagian orang diam-diam sudah percaya,
Tanpa bermain abu-abu, kesejahteraan cuma dongeng pengantar tidur atau slogan dalam pidato. (red)















