Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Politik

Pertemanan Lebih Berharga Daripada Beda Pandangan Hak Politik!

×

Pertemanan Lebih Berharga Daripada Beda Pandangan Hak Politik!

Sebarkan artikel ini
Caption ilustrasi: Bekas kopi di gelas kosong, tapi cerita dan tawa masih tersisa di meja.

Opini Satir – Di tahun politik, suhu perdebatan memang cenderung meningkat. Semua orang merasa punya kewajiban moral untuk membela pilihannya, bahkan kadang melebihi kadar loyalitasnya terhadap sebuah persahabatan.

Diskusi yang sebelumnya santai tiba-tiba berubah menjadi debat panas, dan perbedaan pilihan politik sering kali jadi alasan untuk saling sindir.

Dalam jagat politik, sering kali kita menemui orang yang terlampau serius alias fanatik membela hak politiknya, seolah itu adalah pusaka keramat. Namun, ada juga yang berpikir sebaliknya hak politik itu cuma sekadar pelengkap, tak perlu jadi alasan merusak pertemanan.

Ya, pertemanan bagi mereka jauh lebih penting, lebih hangat dari janji-janji para politisi.

Di satu warung kopi, sekelompok teman sedang berdebat sengit soal calon kandidat panutannya yang sedang populer. Mereka saling lempar argumen, mengutip peraturan hingga analisis ahli politik dari layar ponsel masing-masing.

Satu teman bahkan tak segan-segan menyebut hak pilihnya sebagai bentuk perjuangan demokrasi. Tapi yang lain hanya tersenyum miring, menganggap semua itu tak lebih dari formalitas yang bisa dinegosiasikan di atas meja secangkir kopi.

“Serius banget sih, hak pilih itu kayak pajangan di ruang tamu aja, dipajang biar kelihatan bagus. Yang penting kan kita tetap bisa nongkrong bareng tanpa bawa-bawa itu ke hati,” ujar si pemilik senyum miring, diiringi tawa renyah teman-temannya yang lain.

Suasana semakin hangat, tetapi nada perdebatan mulai mendingin. Masing-masing menyadari, perbedaan pandangan tak perlu selalu diakhiri dengan amarah atau argumen panjang.

Ada yang menganggap politik adalah kewajiban moral, sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Namun, ada pula yang lebih pragmatis, menganggap memilih calon pemimpin itu seperti memilih rasa kopi tergantung selera. Ada yang suka pahit pekat, ada yang lebih suka manis dengan banyak gula.

Di sudut meja, salah satu teman yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.

“Kalian tahu nggak? Di balik hak politik kita yang katanya ‘suci’ ini, ada banyak drama dan manipulasi. Lihat saja berita soal politik uang, atau tokoh yang cuma muncul mendekati pemilu. Jadi, apa iya kita mau sampai ribut soal itu, padahal mereka yang di atas sana duduk santai di kursi empuk?.

Pernyataan itu membuat kelompoknya sejenak terdiam, merenungi betapa seringnya persahabatan yang sudah lama terjalin rusak hanya karena perbedaan politik.

Ironis, bukan? Padahal, para kandidat yang mereka bela belum tentu tahu atau peduli siapa yang memilih mereka. Yang pasti, mereka tetap sibuk mencari dukungan, mengemas janji-janji manis yang biasanya hanya tinggal janji.

Salah satu teman yang sejak awal serius langsung melontarkan senyum kecut, seolah setengah menerima dan setengah menolak.

“Tapi, kalau semua orang mikir kayak kamu, kapan kita bisa lihat perubahan?” tanyanya setengah retoris.

Namun, di balik canda dan tawa yang berlanjut, ada sebuah kesepakatan tak tertulis, biarlah hak politik itu tetap jadi bagian dari diri mereka, tapi tak usah dibawa-bawa sampai memutuskan hubungan yang sudah terjalin.

“Lebih baik kita beda pilihan tapi tetap bisa duduk di sini bareng-bareng, daripada sepakat soal politik tapi nggak pernah nongkrong lagi,” celetuk salah satu dari mereka, membuat suasana kembali cair.

Seperti kopi yang mereka seruput hari itu, pertemanan memiliki rasa yang lebih kuat dan kental dibanding sekadar perbedaan politik. Bagi mereka, persahabatan yang bisa bertahan melewati debat panas dan beda pandangan jauh lebih berharga ketimbang sekadar hak pilih yang hanya dipakai sekali lima tahun.

Toh, setelah semua perdebatan selesai, yang mereka butuhkan hanyalah senyum dan tawa yang tetap mengiringi pertemanan untuk selanjutnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *