Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
PangkalpinangBerita UtamaOpiniPolitik

Empat Sehat, Satu Sempurna: Menu Politik dari Dapur Pangkalpinang

×

Empat Sehat, Satu Sempurna: Menu Politik dari Dapur Pangkalpinang

Sebarkan artikel ini
Empat tokoh potensial tampil dalam pemilihan waiikota pilkada ulang pangkalpinang 2025. (Foto/Istimewa- Djituberita.com)

OPINI | POLITIK LOKAL

PANGKALPINANG,DJITUBERITA.COM –
Pilkada Ulang Kota Pangkalpinang 2025 menjelma seperti lembar buku pelajaran lama: “Empat Sehat, Satu Sempurna”.

Bukan menu makan siang di sekolah dasar, melainkan konfigurasi demokrasi yang kini disajikan oleh empat pasangan calon kepala daerah. Masing-masing membawa cita rasa politik tersendiri, berharap menjadi santapan utama masyarakat Pangkalpinang selama lima tahun ke depan.

Molen -Zeki:  (Gula Politik Lama)

Maulana Aklil (Molen) dan Zeki Yamani tampil sebagai “nasi putih” pokok utama yang mengenyangkan. Didukung mesin partai besar seperti Gerindra, mereka hadir membawa kesinambungan dan stabilitas. Namun, apakah publik masih menikmati “nasi” yang dipanaskan kembali?

Saparudin-Dessy: (Sayur Tanpa Penyedap)

Akademisi Prof. Saparudin hadir bak “sayur bening”: sehat dan jernih, namun kerap dianggap kurang gurih. Gagasan rasional dan tata kelola berbasis data jadi unggulannya. Tapi logika transaksional dan populisme masih jadi penyedap rasa utama demokrasi lokal.

Masyarakat perlu bertanya ulang: apakah kita ingin pemimpin yang sehat untuk jangka panjang, atau yang instan dan memuaskan sesaat?

Eka-Radmida: (Menu Organik Bebas Micin)

Pasangan independen Eka – Radmida menjadi alternatif segar. Tanpa partai, tanpa mesin, mereka hadir sebagai “menu organik” yang jujur dan transparan. Radmida membawa pengalaman birokrasi, Eka menyumbang semangat muda. Keduanya mewakili warga yang ingin “detoksifikasi demokrasi”.

Namun, menu sehat tak selalu laku. Dalam dapur politik yang biasa dengan lauk bersubsidi, mampu kah mereka bertahan?

Basit-Dede: (Sambal Religi dan Populisme Gurih)

Basit Cinda – Ustaz Dede Purnama hadir sebagai “sambal” menggoda dan membangkitkan selera. Kombinasi pengusaha dan tokoh agama jadi kekuatan mobilisasi massa. Tapi politik dengan bumbu agama berlebih bisa picu panas berkepanjangan jika tidak diolah dengan etika dan tanggung jawab.

Apa Gizi Demokrasi Kita?

Empat pasangan sudah tersaji. Rakyat Pangkalpinang kini menjadi penentu utama: apakah akan memilih dengan selera atau nalar? Demokrasi ideal adalah dapur bersama, bukan dapur elite.

Di sinilah peran pemilih sebagai “susu penyempurna” menjadi krusial bukan hanya memilih siapa yang menang, tapi bagaimana menyempurnakan kesadaran politik itu sendiri.(*)

Penulis:
Eddy Supriadi adalah pemerhati politik lokal dan kontributor opini di sejumlah media daerah. Ia menulis dengan pendekatan metaforis dan analitik terhadap dinamika demokrasi di daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *