Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Pangkalpinang

Survei Sementara Pemilihan Walikota Pangkalpinang: Molen, Basit,dan Saparudin Bersaing Ketat

×

Survei Sementara Pemilihan Walikota Pangkalpinang: Molen, Basit,dan Saparudin Bersaing Ketat

Sebarkan artikel ini
Foto Sumber Survei Indikator Indonesia,Mei 2025

PANGKALPINANG,DJITUBERITA.COM – Menjelang Pilkada Ulang WaliKota Pangkalpinang, dilansir dari survei terbaru”Indikator Politik Indonesia” (Mei 2025) mengungkapkan belum ada satu pun kandidat yang berhasil mengunci dominasi dukungan publik.

Dari tujuh nama yang disimulasikan, Maulan Aklil (Molen) hanya unggul tipis dengan dukungan 19,3%, diikuti Basit Cinda (17,7%) dan Saparudin (14,8%). Sementara itu, kelompok pemilih (Swing Voter) yang belum menentukan pilihan justru mencapai angka terbesar, yakni 35,9%.

Selain objek utama yaitu calon walikota, peran calon wakil walikota juga berdampak signifikan dalam mendongkrak elektoral dan popularitas pasangan calon. Oleh sebab itu, calon walikota harus pintar dan jeli memilih pendamping yang totalitas serta memiliki “jual tinggi” di hati masyarakat Kota Pangkalpinang.

Krisis Representasi di Tengah Minimnya Figur Kuat

Fenomena ini menyoroti dua hal penting:

  1. Kegagalan para kandidat menjangkau kepercayaan publik.
  2. Gejala krisis representasi dalam demokrasi lokal Pangkalpinang.

Peta Koalisi Masih Cair

Peta koalisi partai saat ini masih belum jelas:

  • PDIP diprediksi tetap mengusung Molen.
  • Demokrat, PAN, dan PPP terbuka mendukung Basit atau Adhy.
  • Golkar dan NasDem dikaitkan dengan Rasio Ridho Sani.
  • Gerindra masih menjajaki opsi.

Dinamika ini cenderung pragmatis, lebih fokus pada logistik elektoral ketimbang memperkuat substansi pemerintahan. Demokrasi lokal berjalan prosedural, tapi kehilangan arah.

35,9% Pemilih Belum Memilih: Skeptis, Bukan Apatis

Kelompok 35,9% pemilih yang belum menentukan pilihan adalah kunci penentu Pilkada. Mereka bukan golput pasif, melainkan pemilih skeptis yang menunggu sosok berintegritas dan program konkret.

Nama-nama seperti Rasio dan Ismi masih berpeluang, asalkan keluar dari zona elitisme dan mulai menyentuh kebutuhan nyata warga.

Pilkada Bukan Sekadar Rebutan Kuasa

Pilkada seharusnya menjadi momentum etis, bukan hanya perebutan kekuasaan. Pangkalpinang butuh pemimpin visioner, jujur, dan berpihak pada kepentingan kotaPangkalpinang.

Jika partai gagal membaca aspirasi masyarakat  seperti pelajaran dari “kotak kosong” sebelumnya protes elektoral bisa kembali muncul. Namun harapannya, protes itu bertransformasi menjadi dukungan terhadap perubahan sejati.

Kesimpulan: Momentum Mencari Harapan Baru

Pilkada Ulang Pangkalpinang 2025 bukan sekadar pertarungan politik, tapi ujian kepercayaan publik. Jika elite politik dan kandidat masih mengabaikan keresahan pemilih, figur alternatif  termasuk jalur independen berpotensi menjadi kejutan.

Kelompok pemilih bimbang (swing voters) inilah yang menjadi kunci utama kontestasi elektoral. Dukungan mereka berpotensi mendongkrak hasil akhir, sehingga kandidat yang mampu merangkul dan meyakinkan kelompok ini memiliki peluang terbesar untuk memenangkan Pilkada.


📊 Sumber: Survei Indikator Politik Indonesia, Mei 2025
✍️ Penulis: Eddy Supriadi


© 2025 – Semua hak cipta dilindungi.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *