Jakarta/Washington DC – Hari ini menjadi momen krusial bagi hubungan dagang Indonesia dan Amerika Serikat. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) bersama Presiden Donald Trump, Kamis (19/2/2026), usai menghadiri KTT perdana Board of Peace (BoP) di Amerika Serikat.
Kepastian agenda tersebut dikonfirmasi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dilansir ,Radarjakarta id, yang menyebut penandatanganan kesepakatan tarif dagang akan dilakukan setelah rangkaian kegiatan BoP.
Baca Juga Selengkapnya: Presiden Prabowo Bertolak ke Washington, D.C., Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–AS
Baca Juga Selengkapnya: Presiden Prabowo Bertemu Presiden Donald Trump: Sudah Siapkah Indonesia Bermain di Pasar Bebas?
Penandatanganan ART menjadi puncak negosiasi intensif yang telah berlangsung lebih dari satu tahun sejak 2025 dan digadang sebagai perjanjian perdagangan timbal balik paling strategis antara Indonesia dan AS dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam paket kesepakatan tersebut, Indonesia disebut akan membeli energi dari Amerika Serikat senilai USD 15 miliar atau setara sekitar Rp235,5 triliun, serta produk pertanian sebesar USD 4,5 miliar.
Selain itu, Indonesia juga berencana mengakuisisi 50 unit pesawat komersial produksi Boeing yang sebagian besar merupakan tipe 777.
Mengacu pada harga katalog pesawat Boeing 777 yang berkisar antara USD 330 juta hingga USD 400 juta per unit, maka total nilai pembelian 50 pesawat diperkirakan mencapai USD 16,5 miliar hingga USD 20 miliar, atau setara sekitar Rp259 triliun hingga Rp314 triliun dengan asumsi kurs Rp15.700 per dolar AS.
Tarif 19 Persen Masih Menggantung
Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa dalam kesepakatan awal, AS akan mengenakan tarif sebesar 19 persen terhadap sejumlah barang asal Indonesia. Kebijakan tersebut sempat memicu perdebatan di kalangan pelaku usaha nasional.
Pemerintah Indonesia hingga kini menyatakan belum terdapat perubahan terkait besaran tarif tersebut. Namun, peluang penyesuaian tetap terbuka dalam pertemuan bilateral antara kedua kepala negara.
Indonesia dalam ART juga berkomitmen membuka akses pasar lebih luas bagi produk-produk Amerika Serikat, termasuk melalui pengurangan hambatan non-tarif serta penguatan kerja sama di sektor perdagangan digital, teknologi, keamanan nasional, dan sektor komersial lainnya.
Sebagai imbal balik, pemerintah AS menjanjikan pengecualian tarif terhadap sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di dalam negeri mereka, seperti minyak kelapa sawit, kakao, kopi, teh, serta komoditas strategis lainnya.
Tiga Agenda Utama
Kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Amerika Serikat mencakup sejumlah agenda utama, yakni pertemuan dengan pelaku usaha AS, kehadiran dalam KTT Board of Peace, serta pertemuan bilateral dengan Presiden Trump yang dirangkaikan dengan penandatanganan ART.
Kesepakatan ini berpotensi menjadi penentu arah baru hubungan ekonomi kedua negara. Jika terealisasi sesuai rencana, perdagangan Indonesia–AS akan memasuki fase baru dengan konsekuensi langsung terhadap sektor ekspor, impor, serta arus investasi.
Publik dan pelaku usaha kini menanti hasil akhir pertemuan tersebut, khususnya terkait kemungkinan perubahan tarif 19 persen yang hingga saat ini masih menjadi salah satu poin krusial dalam negosiasi.















