Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita UtamaEditorial Khusus

Memaknai Reformasi dan Revolusi di Tengah Gelombang Aksi dan Kegelisahan Publik

×

Memaknai Reformasi dan Revolusi di Tengah Gelombang Aksi dan Kegelisahan Publik

Sebarkan artikel ini
Gambar Ilustrasi Istimewa

DJITUBERITA,EDITORIAL – Gelombang aksi mahasiswa dan masyarakat yang belakangan terjadi di sejumlah daerah kembali menghidupkan diskursus lama dalam kehidupan berbangsa.

Reformasi dan Revolusi, dua istilah yang sarat makna historis dan politik itu kini kembali menggema di ruang publik, seiring meningkatnya kritik terhadap berbagai persoalan nasional, mulai dari ekonomi, demokrasi, penegakan hukum, hingga tata kelola pemerintahan.

Lantas, apa sesungguhnya makna substantif dari reformasi dan revolusi?

Apakah keduanya memiliki tujuan yang sama, atau justru merepresentasikan jalan perubahan yang berbeda?

Reformasi: Perubahan dalam Koridor Sistem

Secara konseptual, reformasi merupakan proses perubahan yang dilakukan untuk memperbaiki sistem yang ada tanpa mengganti fondasi negara secara menyeluruh. Reformasi mengedepankan mekanisme konstitusional, demokratis, dan kelembagaan guna mewujudkan tata kelola yang lebih baik.

Bagi sejarah Indonesia, Reformasi 1998 menjadi tonggak sejarah penting yang mengakhiri era Orde Baru dan membuka ruang demokrasi yang lebih luas. Kebebasan pers, pemilu yang lebih kompetitif, desentralisasi, serta penguatan masyarakat sipil merupakan sebagian capaian reformasi itu sendiri.

Namun, hampir tiga dekade berlalu, sebagian kalangan menilai agenda reformasi belum sepenuhnya tuntas. Praktik korupsi yang masih terjadi, kesenjangan sosial-ekonomi, penegakan hukum yang dipersepsikan belum sepenuhnya berkeadilan, hingga menyempitnya ruang partisipasi publik menjadi sejumlah persoalan yang terus disuarakan.

Revolusi: Perubahan Fundamental

Berbeda dengan reformasi, revolusi dipahami sebagai perubahan yang lebih mendasar dan menyentuh struktur kekuasaan secara fundamental. Dalam sejarah dunia, revolusi kerap muncul ketika sebagian rakyat menilai sistem yang ada tak lagi mampu menjawab tuntutan zaman.

Meski demikian, revolusi tidak selalu identik dengan perubahan melalui kekerasan. Dalam perspektif modern, revolusi juga dapat dimaknai sebagai transformasi besar dalam tata kelola, budaya politik, maupun sistem ekonomi yang berlangsung secara signifikan.

Karena itu, menguatnya narasi revolusi di ruang publik saat ini dapat dibaca sebagai ekspresi ketidakpuasan sekaligus harapan akan perubahan yang lebih substantif.

Gelombang Aksi dan Kegelisahan Publik

Mahasiswa sejak lama dikenal sebagai salah satu kekuatan moral dalam demokrasi Indonesia. Dari era pergerakan nasional hingga Reformasi 1998, mahasiswa kerap hadir sebagai pengingat ketika negara dinilai menjauh dari cita-cita keadilan dan kesejahteraan.

Gelombang aksi yang terjadi belakangan menunjukkan adanya kegelisahan kolektif di tengah masyarakat. Kegelisahan itu setidaknya berkaitan dengan beberapa hal:

– Harapan terhadap penegakan hukum yang adil dan setara.

– Kekhawatiran terhadap kualitas demokrasi dan partisipasi publik.

– Tuntutan pemerataan kesejahteraan dan kesempatan ekonomi.

– Aspirasi terhadap pemerintahan yang transparan dan akuntabel.Keinginan agar kebijakan publik lebih responsif terhadap suara rakyat.

Di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika geopolitik yang terus berubah, tekanan terhadap daya beli masyarakat dan terbatasnya lapangan pekerjaan juga menjadi faktor yang memengaruhi meningkatnya keresahan sosial.

Kritik sebagai Bagian dari Demokrasi

Dalam sistem demokrasi, kritik dan penyampaian aspirasi merupakan hak konstitusional warga negara. Gelombang aksi, selama dilakukan secara damai dan sesuai hukum, merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat.

Pada saat yang sama, negara juga dituntut untuk mampu mendengar, merespons, dan membangun ruang dialog yang konstruktif. Sebab, demokrasi tidak hanya diukur dari penyelenggaraan pemilu, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan partisipasi publik yang bermakna.

Refleksi Kebangsaan

Kembalinya narasi reformasi dan revolusi sejatinya menjadi cermin bahwa masyarakat masih menyimpan harapan besar terhadap masa depan Indonesia. Perubahan merupakan keniscayaan dalam perjalanan setiap bangsa, tetapi arah dan cara perubahan itulah yang akan menentukan kualitas demokrasi dan keberlanjutan pembangunan.

Catatan Redaksi 

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan semata reformasi atau revolusi, melainkan apakah perubahan yang dihadirkan benar-benar mampu menjawab aspirasi rakyat serta menjaga cita-cita keadilan sosial sebagaimana diamanatkan konstitusi.

Sebab sejarah mencatat, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tanpa kritik, melainkan bangsa yang mampu menjadikan kritik sebagai energi perbaikan.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *