Oleh: Artikel “Vilzar” Pimpinan Owner Media Djituberita.com
Di salah satu warung kopi yang kononnya di sebut negeri abu-abu, pagi itu tak hanya dimulai dengan aroma kopi, tapi juga deretan wacana yang menguap bersama kepulan asap rokok.
Di meja kayu yang mulai usang, komitmen-komitmen besar dilontarkan, soal kebersihan lingkungan, solidaritas warga, hingga kritik tajam pada pejabat setempat.
Sayangnya, seperti biasa, semua janji hanya bertahan seumur seduhan hangat di awal, dingin sebelum diteguk sampai habis di tenggorokan.
“Alhasil! di sinilah kita menyaksikan fenomena paling klasik dari masyarakat kita yang lebih suka berdialog daripada bertindak. Hanya banyak bicara, tapi minim aksi. “Bak Lidah Tak Bertulang”
Kalimat-kalimat idealis keluar berderet, namun tidak satu pun berubah menjadi gerakan. Semuanya hanya berakhir sebagai kalori suara yang menguap sebelum hengkang angkat kaki di warung kopi.
Fenomena ini mencerminkan kegagalan besar dalam relasi sosial masyarakat kita. Komitmen bersama, musyawarah, dan niat membangun komunitas seringkali hanya menjadi retorika performatif satu arah.
Setiap masalah baru jadi bahan diskusi bukan penyelesaian. Warga saling menyalahkan, menyindir pengurus desa, menyebut pemerintah malas, tapi saat gotong royong diumumkan, mereka mendadak sibuk entah di mana.
Para orator ulung mendadak hadir, jadi ahli perencanaan kota, pengamat sosial, dan juru bicara rakyat. Mereka bicara tentang pemerintahan, politik, infrastruktur, banjir, kemiskinan, toleransi, hingga rencana membenahi lingkungan dan beragam tema dalam satu meja dengan selera aroma kopi yang sama.
Semua terdengar penuh semangat, bahkan kadang disertai tepuk tangan kecil dari teman sebelah.
Namun begitu kopi habis dan motor dinyalakan, semua komitmen itu turut lenyap bersama berserakan ampas kopi yang tersisa di atas meja.
Warung kopi jadi monumen verbal tempat semua niat baik dikubur dengan santai, ditemani suara lalu lintas kendaraan. Di tempat ini, kata “komitmen” mengalami inflasi makna. Ia diucapkan terlalu sering, tapi terlalu jarang ditepati.
Namun pertanyaannya kini, sampai kapan komitmen hanya menjadi menu tetap di meja warung kopi?
Jika ruang-ruang informal seperti warung kopi hanya dijadikan tempat melampiaskan keluh kesah tanpa arah, maka perubahan hanya akan menjadi mitos yang berputar dari gelas ke gelas.
Ilustrasi Percakapan Para Penikmat Kopi di Atas Meja
Sebut saja AJ tempat warung kopi favorit di salah satu kota sempit di ujung selatan Kota Toboali Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
Pagi itu obrolan mengalir hangat. Ada Jo Pedagang pasar sekaligus pengurus pasar di kota Toboali, Dani pegawai kelurahan, dan Pak Efendi pegawai Pemerintahan Mereka membahas fenomena yang sama: banyak janji, sedikit aksi.
“Kita ini kalau ngomong soal kebersihan, semua semangat. Tapi begitu Minggu diajak bersih kampung, eh tinggal dua orang,” keluh Sarman. Dani mengangguk, “Kalau semua mulai dari hal kecil, kampung ini bisa lebih tertata.”
Tak jauh dari mereka, dua pelanggan lain Candra si buruh harian yang menunggu kerja serabutan turut berkomentar”.
“Yang penting bukan cuma pintar komentar,” ujar Candra. Pak Rudi menambahkan, “Komitmen itu bukan untuk diobrolkan, tapi dikerjakan.
“Kalau cuma di warung kopi, ya selamanya jadi angin.” Gelak kecil pun terdengar, namun percakapan itu menjadi cermin kecil kegelisahan warga yang sadar bahwa wacana tak akan cukup tanpa langkah nyata.
Suasana Pagi Penuh Perdebatan
Pagi berikutnya, warung kopi kembali riuh. Kali ini hadir para politisi yang mendadak merasa paling tahu arah pembangunan, disusul Pak Herman si PNS yang bicara penuh kehati-hatian, serta To mantan Debt Colector beralih profesi jurnalis dadakan. Di sudut lain, Haji Imron petani, sekaligus Pengusaha menyinggung soal lahan, Pak Ancok nelayan mengeluhkan bantuan yang tak jelas, sementara para pekerja penambang menyoroti aturan yang berubah-ubah.
Perdebatan makin panas ketika sang “politisi dadakan” mengklaim dirinya punya solusi untuk semua persoalan. “Kalian ini terlalu pesimis,
”serunya. Seketika Pak Herman menegur, “Optimis boleh, tapi datanya mana?” Suasana pun bergemuruh oleh bantahan, tawa, dan opini yang bersahutan sebuah orkestra pagi yang semrawut kadang jujur kadang jadi seorang pembual besar.
“Warung itu seperti pasar gagasan yang bising, tetapi tetap berhenti di situ saja: tak ada yang benar-benar bergerak.
Di tengah keramaian di sudut lainnya, Pak Hamdan pelawak langganan warung kopi melontarkan gurauan yang membuat meja pecah tawa.
“Kalau komitmen warga ini dijual kiloan, harganya pasti jatuh. Lebih banyak angin daripada isi!” katanya sambil tergelak. “Bayangkan kalau komitmen kita setangguh kopi robusta,” lanjutnya,
“pahit, tapi bikin melek dan bergerak.” Humor sederhana itu justru menampar halus betapa seriusnya masalah yang selama ini hanya muter-muter di meja kopi.
Pertanyaannya kini, sampai kapan komitmen hanya menjadi menu tetap di warung kopi? Jika ruang-ruang informal seperti ini hanya dijadikan tempat melampiaskan keluh kesah, maka perubahan hanya akan menjadi mitos yang berpindah dari gelas ke gelas. Sudah saatnya percakapan tak lagi berakhir menjadi cuap manja, melainkan menjelma langkah nyata dari rakyat untuk rakyat.
Karena masa depan dimanapun, atau kampung sekecil apa pun tidak ditentukan oleh seberapa keras kita berbicara, melainkan seberapa berani kita bergerak setelah kata-kata diucapkan.
Ruang Refleksi Media Djituberita.com















