Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita Nasional

Haidar Alwi Puji Respons Kapolri Telusuri Kayu Gelondongan Hanyut Bencana Banjir

×

Haidar Alwi Puji Respons Kapolri Telusuri Kayu Gelondongan Hanyut Bencana Banjir

Sebarkan artikel ini
Ir. R. Haidar Alwi, MT, memberikan pernyataan tegas terkait respons presisi Polri dalam mengusut jejak kayu gelondongan, disampaikan di Jakarta,(3/12/2025).Foto Istimewa

Jakarta – Bencana selalu datang membawa dua hal, kerusakan yang tampak oleh mata, dan pesan yang hanya dapat dibaca oleh bangsa yang mau menundukkan hatinya. Ketika banjir besar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, air tidak hanya merendam rumah, menutup jalan, dan mengganggu kehidupan warga.

Air juga membawa gelondongan kayu dalam jumlah besar, memenuhi muara, menghambat aliran sungai, dan memunculkan pertanyaan besar di ruang publik?

Menurut Ir. R. Haidar Alwi, MT, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute serta Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB dalam keterangan tertulis (3/12), peristiwa ini bukan sekadar banjir. Ini adalah percakapan alam yang sedang meminta negara untuk mendengarkan.

Dan bagi Haidar, di era Presiden Prabowo Subianto, negara menunjukkan kepekaannya: negara hadir tidak dengan reaksi panik, tetapi dengan tindakan presisi yang menenangkan, ilmiah, dan bertanggung jawab. Negara hadir sebagai organisme yang merasakan rakyatnya sebelum keresahan berubah menjadi ketakutan.

Ketika Alam Membuka Riwayat Hulu: Gelondongan Kayu Sebagai Bahasa Ekologis

Arus banjir bekerja seperti pena alam. Ia menuliskan kembali apa yang tersembunyi di hulu, lalu membawanya ke hilir. Dalam ilmu hidrologi, tidak ada material yang hanyut tanpa alasan. Pohon raksasa dapat tumbang ketika tebing kehilangan daya topang. Lereng gundul dapat runtuh saat tanah jenuh air.

Tumpukan kayu legal dapat terbawa ketika debit air melampaui batas normal. Bahkan kayu dari aktivitas ilegal yang selama ini tersembunyi di balik padatnya vegetasi pun bisa terseret ketika banjir mengangkat tirai hutan.

Ketika fenomena ini muncul di Padang, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga, hingga Meureudu di Aceh, Haidar melihat bahwa alam sedang berbicara. Alam sedang memperlihatkan “riwayat ruang” yang selama bertahun-tahun tidak disadari manusia.

Alam tidak pernah menyampaikan pesannya dengan bisik-bisik. Ia mengirim tanda melalui air, tanah, dan kayu, agar manusia mengingat kembali hubungannya dengan ruang. Tugas negara adalah mendengarkan tanpa prasangka dan membaca tanpa keraguan,” ujar Haidar Alwi.

Kayu gelondongan bukan sekadar objek terapung. Ia adalah data ekologis yang membawa tanda. Dalam ilmu kehutanan, pola serat, arah patahan, kadar air, tekstur kulit, dan residu akar dapat mengungkap asal kayu: tumbang alami, longsor besar, tumpukan legal, atau aktivitas ilegal.

Dalam geomorfologi, arah rotasi batang dan material yang menempel menunjukkan bagaimana lereng bergerak sebelum banjir. Citra satelit memperlihatkan bagaimana tutupan lahan berubah dalam hitungan tahun. Semua itu, bagi Haidar Alwi, adalah bentuk kejujuran alam. Sebab alam menyimpan riwayatnya pada benda-benda yang ia lepaskan.

“Kayu hanyut adalah huruf-huruf ekologis yang menyusun kalimat panjang tentang masa lalu sebuah ruang. Jika negara mau membacanya dengan sabar, setiap huruf akan menunjukkan apa yang harus diperbaiki demi masa depan,” tutur Haidar Alwi.

Namun pengetahuan tidak cukup tanpa tindakan. Sains memberi peta negara yang memilih arah. Pada struktur negara, indra pertama yang membaca tanda-tanda ruang adalah Polri.

Presisi Kapolri: Negara Menjawab Pesan Alam dengan Ketelitian dan Kecepatan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tidak melihat gelondongan kayu sebagai isu viral yang mengikuti arus percakapan. Ia melihatnya sebagai sinyal ruang yang harus dijawab dengan sains, penyidikan, dan ketelitian hukum.

Dengan respons presisi, Kapolri langsung menginstruksikan penyidik Dittipidter untuk turun ke daerah terdampak, berkoordinasi dengan Menteri Kehutanan, serta membentuk tim gabungan bersama KLHK, BNPB, BPBD, BRIN, TNI, dan pemerintah daerah.

Setiap kayu akan dianalisis, bentuk patahan, spesies, kadar air, dugaan asal hulu, hingga korelasinya dengan data satelit. Dugaan tidak dibiarkan liar semua diuji melalui ilmu.

“Presisi bukan hanya tentang ketepatan langkah, tetapi tentang kejujuran negara membaca ruang. Polri menunjukkan bahwa penyidikan adalah bentuk penghormatan kepada alam dan rakyat, karena keselamatan tidak boleh bergantung pada asumsi, tetapi pada ilmu dan tanggung jawab,” jelas Haidar Alwi.

Penyelidikan kayu gelondongan bukan hanya mencari pelanggaran. Ini adalah kesempatan membaca ulang bagaimana hulu, sungai, dan hutan telah dirawat selama puluhan tahun.

Jika kayu berasal dari tumbang alami, mitigasi perlu diperkuat.
Jika dari tumpukan legal, tata ruang harus diperbaiki.
Jika dari aktivitas ilegal, penegakan hukum wajib diperketat.
Jika dari kombinasi semuanya, negara harus menata ulang ekosistem sebagai satu kesatuan.

“Setiap kayu yang hanyut adalah fragmen masa lalu. Ketika negara menggabungkan fragmen-fragmen itu, negara sedang menulis ulang masa depannya, agar anak cucu hidup di ruang yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih adil dari ruang yang kita warisi hari ini,” ujar Haidar Alwi.

Bagi Haidar Alwi, era Presiden Prabowo Subianto menandai kembalinya negara yang peka. Negara melihat sebelum rakyat berteriak. Negara membaca sebelum ruang terluka. Negara merespons dengan presisi, sains, dan kejujuran.

Presisi Kapolri menjadi bukti bahwa negara bekerja bukan hanya dengan kekuatan, tetapi dengan kesadaran.

Selama negara memelihara rasa, selama kepemimpinan menjaga kejujuran, dan selama sains mendampingi setiap keputusan, bangsa ini tidak akan tersesat oleh bencana. Karena negara yang merasakan rakyatnya adalah negara yang selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah badai yang paling gelap sekalipun,” pungkas Haidar Alwi.(Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *