Jakarta – Tokoh nasional sekaligus pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi, menanggapi kritik yang dilontarkan Anies Baswedan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Haidar menilai kritik Anies terlalu emosional dan tidak berdasar data yang valid, sehingga berpotensi menyesatkan opini publik.
Menurut Haidar, masyarakat seharusnya menilai kinerja pemerintah dengan rasional dan berlandaskan fakta kemajuan nyata yang sudah terlihat.
“Kritik yang tidak berbasis pada data dan kenyataan hanya akan memperburuk polarisasi. Rakyat perlu melihat lebih jauh dan menghargai kerja keras pemerintah yang terus berlangsung demi masa depan bangsa,” ujar Haidar Alwi.
Menanggapi klaim Anies Baswedan yang menyebut baru 20% janji pemerintahan terealisasi, Haidar menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan analisis yang utuh. Ia menegaskan bahwa kinerja pemerintahan tidak bisa diukur sekadar melalui persentase janji politik, melainkan dari dampak kebijakan terhadap kesejahteraan rakyat.
“Pemerintahan tidak hanya berbicara soal angka. Ini adalah perjalanan panjang yang harus dilihat dari dampaknya terhadap masyarakat. 20% janji yang belum terealisasi adalah bagian dari proses yang terus berkembang,” jelasnya.
Haidar juga mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan penurunan angka pengangguran terbuka menjadi 4,76% per Februari 2025, sebagai bukti kemajuan signifikan di sektor ketenagakerjaan.
Selain itu, Haidar menyoroti berbagai program pro-rakyat seperti Swasembada Pangan, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Merah Putih sebagai langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mengurangi ketimpangan sosial.
“Program-program ini adalah langkah besar untuk memperbaiki ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semua ini tidak bisa diabaikan hanya karena klaim angka 20%,” tambahnya.
Haidar Alwi menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran telah menunjukkan hasil positif, meski tantangan tetap ada. Ia mengingatkan agar kritik yang dilontarkan publik maupun oposisi tetap konstruktif dan berbasis data, bukan emosi.
> “Kritik yang tidak berbasis fakta hanya akan memperburuk keadaan. Rakyat harus memahami dan menghargai hasil kerja nyata yang sudah berjalan,” ujar Haidar.
Menurutnya, pemerintahan yang baik bukan yang tanpa masalah, melainkan yang terus memperbaiki diri dan menghadirkan kebijakan bermanfaat bagi rakyat.
Di akhir pernyataannya, Haidar Alwi mengajak seluruh elemen bangsa untuk menilai pemerintahan secara rasional dan proporsional.
“Kritik yang sehat harus selalu berbasis pada data, fakta, dan dampak nyata. Politik yang sehat bukan soal siapa yang benar atau salah, tetapi bagaimana kita bisa bersama-sama bekerja untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya.(tim)















