Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita Daerah

Bupati dan Wakil Bupati Bangka Hadiri Ritual Adat Nujuh Jerami di Belinyu

×

Bupati dan Wakil Bupati Bangka Hadiri Ritual Adat Nujuh Jerami di Belinyu

Sebarkan artikel ini
Bupati Bangka Fery Insani bersama Wakil Bupati Syahbudin menghadiri Perayaan Ritual Adat Nujuh Jerami Festival Mapor di Kampong Adat Gebong Memarong, Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Rabu (29/4/2026). Foto: Dok Dinkominfotik Bangka

Belinyu, Bangka – Bupati Bangka Fery Insani bersama Wakil Bupati Syahbudin menghadiri Ritual Adat Nujuh Jerami dalam rangka Festival Mapor Kampong Adat Gebong Memarong, Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Rabu (29/4/2026). Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi Fery sejak menjabat sebagai bupati.

Ritual Nujuh Jerami merupakan tradisi tahunan masyarakat adat Mapur. Upacara ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda kuatnya relasi antara manusia, alam, dan warisan leluhur yang terus dijaga lintas generasi.

Fery Insani menilai keberlangsungan tradisi ini sebagai fondasi penting pembentuk karakter masyarakat. Ia menyebut, tidak banyak desa di Bangka yang masih konsisten mempertahankan adat istiadat.

“Ini yang membentuk jati diri suatu tempat. Saya salut, karena warga di sini tetap menjaga warisan leluhur hingga hari ini,” ujar Fery.

Namun, di tengah apresiasi itu, Fery juga menyoroti stagnasi sektor pariwisata Bangka. Ia mengakui, selama ini geliat ekonomi daerah masih bertumpu pada sektor timah dan mulai bergeser ke perkebunan sawit.

“Sejak dulu kita bicara pariwisata, tapi faktanya belum berkembang signifikan. Kalau hanya mengandalkan pantai, orang datang satu-dua kali saja sudah cukup,” katanya.

Menurut Fery, penguatan sektor pariwisata tidak bisa dilepaskan dari kekayaan budaya lokal. Tanpa itu, daya tarik wisata akan sulit bersaing dengan daerah lain.

“Budaya adalah kunci. Kalau tidak kita angkat, pariwisata akan jalan di tempat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Dusun Air Abik, Asi Harmoko, menegaskan pentingnya pengakuan hukum terhadap masyarakat adat Mapur. Ia menyebut komunitas mereka sebagai salah satu yang masih bertahan di Bangka Belitung.

“Asal-usul dan warisan ini nyata, tapi kami merasa belum cukup dilindungi. Hutan dan wilayah kami mulai tergerus kepentingan lain,” kata Asi.
Ia mendesak pemerintah daerah segera mendorong pembentukan Masyarakat Hukum Adat (MHA) sebagai dasar perlindungan legal.

“Kami butuh pengakuan yang sah, hitam di atas putih. Supaya keberadaan kami dan wilayah adat tidak hilang,” ujarnya.
Di Air Abik, Nujuh Jerami bukan hanya ritual. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah tekanan ekonomi dan perubahan zaman, adat masih berdiri menunggu untuk diakui, sekaligus dimanfaatkan sebagai jalan baru bagi masa depan pariwisata Bangka.

Sumber: Dinkominfotik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *