DJITUBERITA, EDITORIAL – Di balik statusnya sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ternyata menyimpan kekayaan mineral lain yang tak kalah strategis, yakni logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE).
Mineral ini kini menjadi komoditas yang diperebutkan banyak negara karena menjadi bahan baku utama industri teknologi tinggi, energi terbarukan, hingga sistem pertahanan modern.
Berbeda dengan timah, logam tanah jarang di Bangka Belitung umumnya tidak ditambang secara langsung. Mineral tersebut merupakan hasil ikutan (by-product) dari proses penambangan timah yang terkandung dalam mineral monasit, xenotim, dan zirkon.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar mineral ikutan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.
Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bangka Belitung diperkirakan memiliki sekitar 181.735 ton monasit dan 20.734 ton xenotim, menjadikannya salah satu wilayah dengan potensi logam tanah jarang terbesar di Indonesia.
Apa Itu Logam Tanah Jarang?
Logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur kimia yang terdiri atas 15 unsur lantanida ditambah Scandium dan Yttrium. Unsur-unsur yang banyak ditemukan di Bangka Belitung antara lain Cerium (Ce), Lanthanum (La), Neodymium (Nd), Praseodymium (Pr), Samarium (Sm), dan Yttrium (Y).
Meski disebut “tanah jarang”, mineral ini sebenarnya tidak selalu langka. Namun, keberadaannya dalam kadar ekonomis relatif sedikit dan proses pemisahan maupun pemurniannya membutuhkan teknologi tinggi, sehingga nilainya menjadi sangat mahal.
Tersebar di Hampir Seluruh Wilayah Bangka Belitung
Potensi logam tanah jarang di Bangka Belitung tersebar mengikuti jalur endapan timah, baik di daratan maupun wilayah pesisir.
Beberapa daerah yang telah teridentifikasi memiliki potensi besar meliputi:
1. Kabupaten Bangka Selatan, terutama di kawasan bekas tambang timah.
2. Kabupaten Bangka Tengah, pada kawasan bekas tambang timah darat dan lepas pantai.
3. Kabupaten Bangka, yang sejak lama menjadi sentra produksi timah nasional.
4. Kabupaten Bangka Barat, khususnya kawasan endapan pasir timah pantai.
5. Kabupaten Belitung, pada sejumlah lokasi bekas tambang timah aluvial.
6. Kabupaten Belitung Timur, yang memiliki karakter geologi serupa dengan Pulau Bangka.
Sebagian besar cadangan tersebut masih berada dalam bentuk mineral ikutan hasil pencucian bijih timah.
Mengapa Sangat Bernilai?
Logam tanah jarang merupakan komponen penting berbagai produk berteknologi tinggi yang digunakan masyarakat setiap hari maupun industri strategis.
Mineral ini dimanfaatkan untuk pembuatan:
– Kendaraan listrik (electric vehicle).
– Baterai dan motor listrik.
– Magnet permanen berkekuatan tinggi.
– Turbin pembangkit listrik tenaga angin.
– Panel surya.
– Telepon pintar dan komputer.
– Semikonduktor.
– Peralatan medis seperti MRI.
– Satelit dan teknologi antariksa.
– Radar, rudal berpemandu, hingga pesawat tempur.
Karena sulit digantikan oleh material lain, permintaan dunia terhadap logam tanah jarang terus meningkat setiap tahun.
Peluang Hilirisasi Bangka Belitung
Besarnya cadangan logam tanah jarang membuka peluang besar bagi Bangka Belitung untuk mengembangkan industri hilirisasi mineral strategis.
Apabila monasit dan xenotim tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, melainkan diproses menjadi oksida logam tanah jarang atau produk turunan lainnya, nilai tambah yang dihasilkan dapat meningkat berkali-kali lipat.
Selain meningkatkan penerimaan negara dan daerah, hilirisasi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, menarik investasi, serta memperkuat industri nasional.
Pengelolaan Harus Ketat
Di sisi lain, pengelolaan logam tanah jarang memerlukan teknologi tinggi dan pengawasan yang ketat. Beberapa mineral pembawanya, seperti monasit, mengandung unsur radioaktif dalam kadar tertentu sehingga proses pengolahan harus memenuhi standar keselamatan dan perlindungan lingkungan.
Selain itu, karena termasuk komoditas strategis bernilai tinggi, pemerintah membatasi ekspor mineral mentah dan mendorong pengolahan di dalam negeri agar manfaat ekonominya dapat dinikmati secara maksimal oleh bangsa Indonesia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap kendaraan listrik, energi bersih, dan teknologi modern, logam tanah jarang menjadi salah satu sumber daya mineral paling strategis abad ini.
Dengan cadangan yang besar dan tersebar di hampir seluruh wilayah pertambangan timah, Bangka Belitung memiliki peluang untuk berkembang bukan hanya sebagai daerah penghasil timah, tetapi juga sebagai pusat hilirisasi logam tanah jarang nasional yang mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan Indonesia.(Red)















