Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita UtamaJakarta

Pasar Jaya Dorong Pemilahan Sampah dari Rumah Jadi Budaya Baru Warga Jakarta

336
×

Pasar Jaya Dorong Pemilahan Sampah dari Rumah Jadi Budaya Baru Warga Jakarta

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan Widiyantoro dan Pengawas Lingkungan Hidup Cempaka Putih Agus Sasmita dalam Diskusi Publik “Jakarta Bergerak Bersama, Pilah Sampah dari Sumber, Jadi Budaya Baru Warga Kota”. Jakarta, Rabu (19/8/2026).

DJITUBERITA,JAKARTA – Perumda Pasar Jaya memperkuat dukungan terhadap gerakan pemilahan sampah dari sumber sebagai bagian dari upaya membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah di Jakarta.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan Widiyantoro, mengatakan keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi dan fasilitas pengolahan, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat sejak sampah dihasilkan.

Kuncinya tetap ada di masyarakat, yaitu memilah sampah dari rumah,” ujar Agus.

Menurut dia, kebiasaan memilah sampah perlu dimulai dari rumah sebelum sampah dibawa ke tempat pengumpulan atau fasilitas pengolahan. Langkah tersebut dinilai menjadi fondasi untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Agus berharap gerakan tersebut tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

Gerakan ini benar-benar menjadi budaya baru bagi Jakarta,” katanya.

Pasar Jaya memiliki posisi strategis dalam gerakan tersebut karena mengelola sekitar 153 pasar rakyat yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta. Pasar tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang interaksi pedagang dan masyarakat setiap hari.

Karena itu, pengelolaan sampah di lingkungan pasar didorong dilakukan secara lebih terstruktur, antara lain melalui pengurangan plastik sekali pakai, penggunaan kembali barang yang masih layak, serta pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.

Pedagang dan konsumen juga dapat didorong memahami pemilahan sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.

Upaya tersebut sejalan dengan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R). Sampah yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi dapat dimanfaatkan atau didaur ulang, sedangkan sampah residu diarahkan ke fasilitas pengolahan yang sesuai.

Agus menilai persoalan sampah bukan sekadar masalah kebersihan kota. Cara masyarakat memperlakukan sampah, kata dia, juga mencerminkan tingkat kesadaran dan kualitas peradaban sebuah kota.

Peradaban sebuah bangsa juga ditentukan dari bagaimana kita memperlakukan sampah,” tegasnya.

Pengawas Lingkungan Hidup Cempaka Putih, Agus Sasmita, menambahkan bahwa pengolahan sampah warga harus diawali dengan pemisahan dari sumbernya.

“Jadi enggak bisa langsung… itu diolah organiknya, lalu nanti jadi bahan makanan atau pakan. Salah satunya dari sumbernya, berarti dari rumah tangga,” jelas Agus dalam Diskusi Publik Jakarta Bergerak Bersama, Pilah Sampah dari Sumber, Jadi Budaya Baru Warga Kota, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, masyarakat juga perlu memahami standar operasional prosedur (SOP) pemilahan sampah rumah tangga. Pemilahan sejak awal akan membantu petugas ketika melakukan pengangkutan sekaligus mempermudah proses pengolahan berikutnya.

Agus menjelaskan, sampah dapat dipisahkan ke dalam beberapa kategori, termasuk sampah B3. Meski jumlahnya relatif tidak banyak, kategori tersebut tetap perlu mendapat perhatian khusus.

B3 kan jarang-jarang. Sisa-sisa bahan beracun seperti obat nyamuk, obat-obatan, suntikan, itu mungkin jarang ya,” ujarnya.

Pasar Jaya juga mendukung inovasi pengelolaan sampah, termasuk konsep ekonomi sirkular dan teknologi Waste to Energy (WtE).

Namun, teknologi pengolahan sampah dinilai harus menjadi bagian dari sistem yang terintegrasi. Pengurangan sampah dan pemilahan dari sumber tetap menjadi tahapan awal yang menentukan kualitas sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan.

Dengan jaringan pasar yang luas, Pasar Jaya mendorong lingkungan pasar menjadi ruang edukasi publik. Penggunaan tas belanja berulang, pengurangan plastik sekali pakai, dan pemilahan sampah diharapkan menjadi bagian dari aktivitas perdagangan sehari-hari.

Gerakan tersebut pada akhirnya menempatkan pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah dan petugas kebersihan. Rumah tangga, pedagang, konsumen, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat memiliki peran sejak sampah pertama kali dihasilkan.

Melalui penguatan pemilahan dari sumber, Pasar Jaya berharap ekosistem pengelolaan sampah Jakarta semakin efektif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung terwujudnya kota yang lebih bersih, sehat, tertata, dan berkelanjutan.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *