Jakarta – Pemandangan tak biasa terjadi di depan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi KPK di kawasan Setiabudi Kuningan Jakarta Selatan Jumat Siang (8/5/2026). Ahmad Dedi alias Dedi Congor, oknum pegawai sekaligus eks pejabat di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, mendadak jadi “pelari tercepat” begitu keluar dari ruang pemeriksaan penyidik.
Pria yang diperiksa sebagai saksi dalam perkara dugaan suap impor itu tampak bergegas meninggalkan lokasi sambil menghindari kejaran wartawan.
Bukannya berhenti memberi penjelasan, AD justru memilih tancap gas, menembus jalanan seolah garis finis lebih penting daripada menjawab pertanyaan publik.
Momen itu sontak menyita perhatian. Di tengah sorotan kasus dugaan praktik kotor impor yang menyeret namanya, sikap bungkam sambil berlari dinilai publik makin menambah tanda tanya.
Alih-alih tampil tenang dan kooperatif, eks pejabat bea cukai tersebut justru memperlihatkan kepanikan yang sulit disembunyikan.
Wartawan (Tim) yang mencoba meminta klarifikasi hanya mendapat punggung dan langkah tergesa. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut AD. Situasi itu memunculkan sindiran tajam di kalangan awak media.
“Kalau urusan kejar target penerimaan negara paling tercepat, mungkin negara sudah surplus. kali ya,” celoteh sesama para awak media yang stanby di KPK.
Kasus dugaan suap impor sendiri menjadi perhatian karena menyangkut integritas aparat di sektor lalu lintas barang dan penerimaan negara. Publik kini menunggu sejauh mana pengusutan yang dilakukan KPK, termasuk kemungkinan adanya pihak lain yang ikut menikmati “jalur cepat” dalam urusan impor.
Di tengah derasnya tuntutan transparansi, aksi lari terbirit-birit seorang eks pejabat justru menjadi simbol lama yang belum benar-benar hilang, takut bicara ketika sorotan kamera mulai menyala. (Tim)















