Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita NasionalBerita Utama

Saat Algoritma Mengalahkan Arsip: Kemenbud RI dan KTD DKI Soroti Literasi Sejarah Generasi Z

×

Saat Algoritma Mengalahkan Arsip: Kemenbud RI dan KTD DKI Soroti Literasi Sejarah Generasi Z

Sebarkan artikel ini
Diskusi “Konten Digital Sejarah sebagai Pembentuk Memori Kolektif Generasi Muda” di Asrama UI, Depok, 6 Desember 2025. Acara dipandu Ketua Studi Klub Sejarah UI, Aline Anismara, dengan pembicara Dekan FIB UI Bondan Kanumoyoso, Ketua KTD Jakarta Agil Kurniadi, dan Dosen Komunikasi Universitas Paramadina Erick Ardiyanto. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama DPD Klub Tempo Doeloe (KTD) DKI Jakarta menggelar diskusi bertema konten digital sejarah dan pembentukan memori kolektif generasi muda di Asrama Universitas Indonesia, Depok Sabtu (6/12/2025).

Forum ini menyoroti bagaimana lompatan teknologi digital, algoritma media sosial, serta budaya post-truth mengubah cara publik muda mengenali dan mengingat masa lalu.

Diskusi dipandu oleh Aline Anismara, Ketua Studi Klub Sejarah UI terpilih. Ia menekankan bahwa generasi digital saat ini hidup dalam ruang informasi yang dipenuhi echo chamber, di mana konten sejarah yang bias, terpotong konteks, atau bahkan keliru dapat berulang dan akhirnya dianggap benar. Karena itu, kemampuan verifikasi dan pemahaman metodologi sejarah menjadi semakin mendesak.

Sejarah di Tengah Kompetisi Algoritma

Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Bondan Kanumoyoso, menggarisbawahi bahwa platform digital telah menjadi arena utama pembentukan memori kolektif generasi muda. Menurutnya, sejarah kini harus bersaing dengan hiburan, opini singkat, dan pola konsumsi serba instan.

“Keterbukaan digital membuat sejarah lebih dekat dan menarik, tetapi sekaligus membuka ruang penyederhanaan, romantisasi, dan distorsi ketika fakta tercabut dari konteks akademiknya. Tantangan kita bukan menolak ledakan konten sejarah, tetapi memastikan ia dikawal oleh riset sahih, etika narasi, serta perspektif kritis,” ujarnya.

Sejarah sebagai Komoditas Digital

Ketua DPD KTD DKI Jakarta, Agil Kurniadi, menilai bahwa konten sejarah tidak lagi hanya menjadi disiplin pengetahuan, tetapi telah berubah menjadi bentuk hiburan sekaligus komoditas digital.

“Sejarah bisa menjadi alat populer yang memengaruhi opini publik. Maka, perlu kehati-hatian dalam produksi dan konsumsi konten sejarah agar tidak menyimpang dari fakta,” katanya.

Ancaman Distorsi di Era Post-Truth

Dosen Universitas Paramadina, Erik Ardiyanto, melihat pergeseran besar dalam bagaimana kebenaran sejarah dibentuk. Ia menyebut bahwa narasi masa lalu kini bergerak “dari arsip ke algoritma.”

“Tantangan kita bukan sekadar hoaks, tetapi kekerasan epistemik manipulasi fakta masa lalu yang diperkuat AI. Generasi muda harus menjadi produsen narasi sejarah yang kritis, bukan sekadar konsumen sensasi,” tegasnya.

Peran Asrama UI dalam Penguatan Literasi Kritis

Kepala Asrama UI, Mariyah, berharap diskusi ini memperkuat kompetensi kritis para penghuni Asrama UI dalam menilai narasi sejarah digital.

“Konten sejarah digital yang faktual dapat membentuk identitas dan memori kolektif anak muda sebagai warga kampus yang produktif dan dinamis. Kami berharap diskusi ini menumbuhkan nilai-nilai historis, budaya, dan intelektual mahasiswa,” ujarnya.

Kerjasama Interdisiplin sebagai Kebutuhan Abad ke-21

Sebagai penanggung jawab kegiatan, akademisi UI dan pengajar Universitas Terbuka, Insan Praditya Anugrah, menegaskan bahwa analisis atas konten sejarah digital tidak bisa hanya ditinjau dari satu disiplin ilmu.

“Cara manusia mengingat masa lalu berubah dari tradisi lisan, tulisan, kapitalisme cetak, hingga era disrupsi informasi. Di abad ke-21, produksi konten digital tidak lagi tunduk pada otoritas negara maupun otoritas akademik. Karena itu, kolaborasi sejarah, komunikasi, dan ilmu informasi sangat diperlukan,” ujarnya.

Antusiasme Melebihi Target

Meskipun panitia mentargetkan 100–130 peserta, antusiasme mahasiswa jauh melampaui perkiraan. Tercatat 191 peserta hadir dan sesi tanya jawab berlangsung sangat aktif.

Acara ini diharapkan menjadi langkah awal bagi sinergi akademik lintas disiplin serta membangun budaya literasi sejarah digital yang lebih kritis, akurat, dan berbasis metodologi ilmiah.(Rilis)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *