Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Bangka SelatanBerita Utama

Pedagang Pasar Toboali Mengeluh Sepinya Pembeli: Daya Beli Masyarakat Kian Melemah

×

Pedagang Pasar Toboali Mengeluh Sepinya Pembeli: Daya Beli Masyarakat Kian Melemah

Sebarkan artikel ini
Mbok Andut (40), pedagang kebutuhan rumah tangga harian di Pasar Toboali. (Foto Istimewa - Djituberita.com)

TOBOALI,DJITUBERITA.COM – Aktivitas jual beli di Pasar Toboali, yang terletak di bekas kawasan Terminal Kota Toboali, Kabupaten Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kini menunjukkan tren penurunan tajam.

Meski pasar ini dulunya menjadi denyut nadi ekonomi kota, dalam sebulan terakhir para pedagang mengeluhkan minimnya kunjungan pembeli.

Pantauan langsung redaksi Djituberita.com pada Sabtu pagi (2/8/2025) sekitar jam:  06.20 WIB. Suasana pasar yang lesu, sejumlah pedagang menyatakan bahwa penurunan daya beli masyarakat menjadi penyebab utama sepinya transaksi.

Keluhan Pedagang: Omzet Harian Menurun Drastis:

Mbok Andut (40), pedagang kebutuhan bumbu rumah tangga harian, menyebut hampir satu bulan ini melemah, sejak ia mulai berdagang.

“Lebih parah dari sebelumnya. nyaris sepi pembeli,” katanya lirih.

Sementara itu, Bu Siti (43), pedagang bumbu dapur asal Trans Desa Rias SPB, mengaku jumlah pembeli semakin berkurang.

“Faktor ekonomi sangat memengaruhi. Sekarang pembeli sepi sekali,” ujar Bu Siti singkat.

Hal senada disampaikan Agus (29), pedagang sayur mayur dari kawasan yang sama. Ia menilai situasi ini sudah mulai terasa sejak awal Juli 2025.

Razia tambang timah ilegal dan gejolak penanganan kawasan hutan rakyat ikut berpengaruh penghasilan masyarakat turun, otomatis belanja ke pasar pun berkurang. Sekarang jual bayam, sawi, kangkung cuma seribu rupiah per ikat, tetap saja sepi,” keluh Agus mencoba ingin tahu penyebabnya?.

Harga Cenderung Stabil, tapi daya beli masyarakat melemah:

Beberapa harga kebutuhan pokok memang terpantau stabil. Cabe besar keriting dijual Rp40.000/kg, cabe rawit kecil masih bertahan di Rp70.000/kg. Namun, bawang merah mengalami kenaikan dari Rp45.000 menjadi Rp50.000/kg.


“Naik Rp5.000 lumayan terasa bagi pembeli,” kata Ibu Samsiah (39), pedagang asal Toboali.

Mulyadi, pedagang ayam potong asal Desa Telek, Kecamatan Tukak Sadai, menyatakan harga ayam potong stabil di Rp32.000/kg. Meski begitu, penurunan daya beli tetap menekan omzet harian.”Semua pedagang di sini sama. Pembeli makin sedikit karena ekonomi sedang susah,” ungkapnya.

Harapan pada Pemerintah Daerah:

Kondisi ini mencerminkan lemahnya ekonomi lokal di tengah ketidakpastian pendapatan masyarakat, terutama pasca pengetatan aktivitas tambang timah ilegal yang selama ini menyumbang pendapatan informal warga dan gejolak ekonomi petani sawit.

Para pedagang berharap adanya intervensi dari pemerintah daerah. Stimulus atau program yang mendorong perputaran ekonomi lokal dinilai penting untuk mengangkat kembali daya beli masyarakat, khususnya di sektor informal seperti pasar rakyat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *