Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Bangka SelatanArtikelOpini

Tom Babelhebat: Kopi Pahit di Negeri yang Alergi Kritik

×

Tom Babelhebat: Kopi Pahit di Negeri yang Alergi Kritik

Sebarkan artikel ini
Foto: Tom BabelHebat tengah menyeruput di warkop Kaye Toboali.Tempat di mana kata-kata diseduh bersama kopi pahit dan tekad keras untuk tetap berpihak pada kebenaran.

TOBOALI, DJITUBERITA.COM – Di sebuah sudut kota kecil yang katanya penuh pesona, seorang pria berkacamata hitam duduk tenang.

Di hadapannya, segelas kopi susu hitam sudah setengah dingin, sebatang rokok belum dibakar, dan layar ponsel terus menampilkan notifikasi yang tak kunjung henti.

Itulah Tom, jurnalis lokal Bangka Selatan, sekaligus pemilik media Babelhebat.com yang namanya seakan sarkasme dari kenyataan pahit yang ia hadapi tiap hari.

Tom bukan wartawan besar, dia bukan bagian dari media nasional yang punya privilese konferensi pers atau press release eksklusif. Tapi di balik tampilannya yang sederhana dan gaya bicara yang bersahaja, mengalir keberanian yang membuat banyak pejabat enggan duduk semeja dengannya.

“Kadang saya heran, yang takut sama tulisan saya itu bukan pembaca, tapi penguasa,” ucapnya, setengah bercanda, setengah getir, saat berbincang dengan Vilzar Pemilik Djituberita.com di Warkop Kaye, salah satu markas informal para penulis jalanan di Toboali.

Tom telah menulis sejak era disket dan warnet dengan bunyi modem berdengung. Ia menyaksikan sendiri bagaimana berita berubah dari laporan mendalam menjadi sekadar judul clickbait.

Tapi ia bertahan meski sendirian, meski tanpa iklan, meski dibungkam secara halus atau kadang secara kasar.

“Menulis kebenaran di negeri ini seperti menyeduh kopi tanpa gula. Pahitnya bisa ditebak. Tapi tetap bikin ketagihan, katanya sambil menyeruput kopinya yang mulai dingin…

Ia tak sedang puitis. Ia sedang menggambarkan realitas….

Ditekan, Dikriminalisasi, dan Ditinggalkan…

Sebagai pemilik BabelHebat.com, Tom tahu betul bagaimana jurnalis lokal kadang jadi target empuk. Berita-berita soal tambang ilegal, proyek fiktif, atau manipulasi anggaran tak jarang berakhir dengan ancaman.

Pernah ia diminta menghapus berita. Tak sedikit pula yang menganggapnya hanya “cari makan” atau pengacau sistem”.

“Lucunya, ketika saya diam, mereka anggap saya netral. Tapi saat saya menulis, saya disebut provokator,” ujar Tom sambil tertawa ringan.

Dalam dunia yang alergi terhadap kritik, kebenaran menjadi barang berbahaya. Dan jurnalis yang menuliskannya? Dianggap pengganggu, bukan penjaga.

Di sinilah ia menulis, berpikir, merenung, bahkan mengutuk sistem yang membungkam rakyat dengan dalih stabilitas. Warkop Kaye adalah tempat ia menyusun narasi dari suara-suara kecil tentang petani yang lahannya dirampas, nelayan yang kehilangan ruang tangkap, atau warga desa yang tak tahu kemana dana pembangunan mengalir.

“Kalau saya diam, siapa yang cerita? Kalau saya takut, siapa yang sampaikan?” ungkapnya lirih.

Tom tak pernah memaksa orang percaya pada tulisannya. Tapi ia yakin, sejarah akan mencatat siapa yang bersuara dan siapa yang pura-pura tuli.

Media yang ia dirikan bukan untuk ladang bisnis besar. “Kalau mau kaya, saya buka tambang,” katanya sarkastik. Tapi ia lebih memilih profesi yang tak menjanjikan kemewahan hanya idealisme dan secangkir kopi pahit setiap hari.

Meski kadang terpinggirkan dari akses informasi resmi, Tom tetap menulis. Bahkan, ketika berita tak dibaca, atau saat berita itu justru membuatnya dijauhi. Karena bagi Tom, jurnalisme bukan soal likes atau views, tapi soal keberanian untuk tetap waras di tengah kebisingan yang menutupi kebenaran.

“Negeri ini mungkin alergi kritik. Tapi saya tak akan berhenti menulis. Karena diam justru membuat racunnya makin menyebar,” tutup Tom, sembari kembali membuka gawainya dan mulai menulis mungkin sebuah berita kecil, tapi dengan keberanian yang besar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *