Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita Utama

Usai Pelantikan PW SEMMI Sumsel, Farhan Angkat Sejarah Sarekat Dagang Islam

×

Usai Pelantikan PW SEMMI Sumsel, Farhan Angkat Sejarah Sarekat Dagang Islam

Sebarkan artikel ini
Teuku Muhammad Farhan menyampaikan pidato dalam pelantikan PW SEMMI Sumsel di Aula Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Sabtu (16/5/2026).

DJITUBERITA,PALEMBANG – Pelantikan pengurus Pimpinan Wilayah Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (PW SEMMI) Sumatera Selatan periode 2026–2028 resmi digelar di Aula Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Sabtu (16/5/2026). Dalam agenda tersebut, M. Yoga Prasetyo ditetapkan sebagai Ketua PW SEMMI Sumsel.

Kegiatan pelantikan turut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Sumsel, Staf Ahli Wali Kota Palembang, serta Anggota DPRD Kota Palembang, Arris Alkautsar.

Momentum pelantikan tidak hanya menjadi ajang regenerasi kepemimpinan organisasi mahasiswa, tetapi juga diwarnai penyampaian gagasan kritis terkait sejarah pergerakan nasional Indonesia.

Ketua Bidang Politik PB SEMMI, Teuku Muhammad Farhan, yang hadir mewakili Pengurus Besar SEMMI, mengusulkan agar peringatan Hari Kebangkitan Nasional ditinjau kembali dan dikaitkan dengan lahirnya Sarekat Dagang Islam (SDI) pada Oktober 1905.

Menurut Farhan, narasi sejarah yang selama ini menempatkan Boedi Oetomo sebagai tonggak kebangkitan nasional perlu dikaji secara objektif. Ia menilai Sarekat Dagang Islam yang didirikan H. Samanhudi lebih dahulu hadir dan memiliki basis perjuangan yang lebih dekat dengan rakyat.

“Buku-buku sejarah kita menulis bahwa Boedi Oetomo adalah organisasi modern pertama, tetapi bagi saya, Sarekat Dagang Islam adalah pelopor yang mengkonsolidasi rakyat banyak, bukan hanya kaum priyayi. Oleh karena ini bulan Mei, maka bolehlah kita sedikit membayangkan ke depan bahwa Hari Kebangkitan Nasional diperingati ketika Sarekat Dagang Islam berdiri saja, alih-alih 20 Mei,” ujar Farhan.

Ia menjelaskan, Boedi Oetomo dikenal memiliki corak gerakan yang lebih elit-sentris dengan dominasi kaum priyayi dan pegawai pemerintahan kolonial.

Sementara SDI yang kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto pada 1912, dinilai berhasil menggalang kekuatan rakyat secara luas.

Farhan menyebut SDI menjadi organisasi awal yang mampu merangkul pedagang, pekerja, dan masyarakat kelas bawah untuk memperjuangkan kedaulatan ekonomi dan politik dari dominasi kolonial.

Selain menyoroti pelurusan sejarah kebangkitan nasional, Farhan juga mengingatkan kader SEMMI terkait fenomena “hyperpolitics” di kalangan generasi muda. Menurutnya, banyak anak muda aktif dan vokal di media sosial, namun minim keterlibatan nyata dalam gerakan sosial maupun pengawalan kebijakan publik.

“SEMMI tidak boleh hanya menjadi organisasi yang ramai di media sosial namun sepi gagasan dan gerakan. Kita harus hadir di kampus, di tengah masyarakat, mengawal kebijakan publik, memperjuangkan ekonomi umat, dan menjadi pelopor literasi politik generasi muda,” tegasnya.

Dalam penyampaiannya, Farhan juga mengutip pesan H.O.S. Tjokroaminoto mengenai pentingnya kesadaran rakyat agar tidak menjadi “sapi perahan” akibat ketimpangan ekonomi dan dominasi oligarki.

Ia menilai mahasiswa harus lebih peduli terhadap isu-isu strategis bangsa, termasuk pengawalan aturan prosedural pemilu dan arah demokrasi nasional.

Di akhir sambutannya, Farhan meminta PW SEMMI Sumsel di bawah kepemimpinan M. Yoga Prasetyo menjadi ruang pembelajaran sekaligus pusat kesadaran baru bagi generasi muda.

Ia juga menegaskan pentingnya karakter perjuangan kader dengan semboyan, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepandai-pandai siyasah.” (Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *