Artikel Satir – Di balik janji-janji manis untuk mengabdi pada negara, tak sedikit pejabat publik yang terseret dalam arus gaya hidup hedonisme.
“Mereka (Oknum Pejabat-red),bukan lagi sekadar pengurus negara, melainkan bak selebriti dadakan dengan agenda yang lebih penuh untuk pamer kemewahan daripada bekerja.
Tugas dan tupoksi utama serta etos kerja seolah-olah berubah menjadi galeri fashion untuk ditunjukkan ke media sosial menjadi etalase prestasi palsu.
Mobil mewah berderet di garasi, arloji berkilauan di pergelangan tangan, dan liburan mewah di luar menjadi “keharusan” bagi sebagian mereka. Bukan untuk menikmati hasil kerja keras, melainkan untuk menonjolkan status sosial.
Alasan klise seperti “hasil usaha pribadi” atau “hibah dari keluarga” kerap dilontarkan demi mengaburkan jejak buruk.
Di negeri ini, pengabdian seharusnya menjadi standar tertinggi. Namun, ketika hedonisme merajalela, tak heran publik mulai skeptis, bertanya-tanya, apakah pejabat kita bekerja untuk rakyat atau sekadar menghidupi hasrat mereka yang tak pernah terpuaskan?
Namun, realitas pahit yang harus ditelan adalah dampaknya pada kepercayaan masyarakat. Ketika para pejabat asyik bergelimang harta dan kemewahan, rakyat dibiarkan menunggu janji-janji yang tak kunjung terpenuhi.
Infrastruktur tertunda, pelayanan publik terbengkalai,ekonomi terpuruk,sulit mendapatkan pekerjaan,dan lain sebagainya. Sementara mereka sibuk memperindah kehidupan pribadi.
Ironisnya, di tengah derasnya kecaman, seakan tak ada rasa malu yang tersisa. Hedonisme mereka terus dipertontonkan, seakan pengabdian dan tanggung jawab adalah hal kecil yang bisa dipinggirkan.
Dan pada akhirnya, rakyatlah yang menanggung beban, sementara para pejabat terus bermain di panggung glamour yang tak berujung.(*)















