DJITUBERITA,EDITORIAL KHUSUS – Nama Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam semakin menonjol dalam peta bisnis nasional. Ekspansi yang dilakukan melalui jaringan usahanya tidak lagi berhenti pada sektor pertambangan batu bara dan perkebunan, tetapi telah merambah nikel, pangan, logistik hingga pasar modal.
Langkah terbarunya adalah rencana melalui PT Jhonlin Baratama untuk mengambil alih 10.000.000.500 saham atau sekitar 30 persen PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam conditional share purchase agreement (CSPA) pada 16 September 2026 dan masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan.
Ekspansi tersebut membuat Haji Isam semakin sering diperbincangkan di kalangan pelaku pasar. Bukan hanya karena skala transaksinya, tetapi juga karena jaringan bisnis yang dibangun melalui Jhonlin Group telah tersebar di berbagai sektor.
Di tengah perhatian tersebut, muncul pula rumor bahwa Haji Isam bakal mengakuisisi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Namun, isu BCA perlu ditempatkan secara hati-hati. BCA telah membantah kabar tersebut. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, pada Jumat (25/9/2026) menyatakan informasi mengenai adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA yang beredar di media sosial tidak benar.
Dengan demikian, rumor akuisisi BCA hingga kini bukan merupakan aksi korporasi yang dikonfirmasi perseroan.
Dari Jhonlin hingga Bayan
Jejak ekspansi Haji Isam menunjukkan perubahan skala bisnis yang cukup signifikan.
Jhonlin Group selama ini dikenal kuat di sektor pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit dan logistik. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ekspansinya bergerak lebih luas.
Pada Mei 2026, Haji Isam membeli sekitar 6,83 miliar saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) dengan harga Rp137 per saham.
Kepemilikan tersebut setara sekitar 21,12 persen dan nilai transaksinya sekitar Rp936,65 miliar. Langkah tersebut memperluas eksposur bisnisnya ke sektor nikel.
Sementara pada 2025, jaringan keluarga Haji Isam juga masuk ke bisnis makanan melalui PT Shankara Fortuna Nusantara yang membeli saham PT Jagonya Ayam Indonesia, perusahaan yang berkaitan dengan PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST).
Kemudian Datang Langkah yang Lebih Besar: Bayan Resources
Jika transaksi BYAN selesai dan seluruh persyaratan pendahuluan terpenuhi, Jhonlin Baratama akan menguasai 30 persen saham BYAN. Berdasarkan data yang disampaikan pemberitaan, jumlah saham tersebut mencapai 10.000.000.500 lembar.
Transaksi ini sekaligus memperlihatkan bahwa ekspansi Haji Isam tidak sekadar menambah jumlah perusahaan, tetapi juga menyasar perusahaan terbuka dengan kapitalisasi dan skala operasi besar.
Gurita Bisnisnya yang Terus Melebar
Jejak bisnis Haji Isam di pasar modal juga tersebar melalui sejumlah emiten dan struktur kepemilikan yang berkaitan dengan dirinya maupun keluarganya.
Di sektor perkebunan, Haji Isam tercatat sebagai penerima manfaat akhir pada PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR).
Di PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), keterkaitan kepemilikan berada antara lain melalui anak-anak Haji Isam. PGUN juga berkaitan dengan perusahaan perkebunan seperti PT Araya Agro Lestari dan PT Citra Agro Raya.
Sementara di PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), keterkaitan tersebut berada melalui PT Dua Samudera Perkasa, yang menurut penelusuran Katadata memiliki kepemilikan Haji Isam sebesar 49 persen.
Jaringan tersebut menunjukkan bahwa bisnis Haji Isam tidak berdiri dalam satu garis usaha. Struktur kepemilikan dan perusahaan yang terkait dengannya membentang dari pertambangan, perkebunan, nikel hingga logistik dan bisnis pangan.
Katadata mencatat ekspansi tersebut melalui sejumlah perusahaan seperti JARR, PACK, PGUN, TEBE dan BYAN.
Mengapa Nama Haji Isam Dikaitkan dengan BCA?
Rumor mengenai BCA muncul ketika perhatian terhadap ekspansi Haji Isam sedang tinggi, terutama setelah rencana akuisisi 30 persen BYAN menjadi perhatian pasar.
BCA Tegaskan Rumor Tidak Benar
Di sisi lain, BCA telah memberikan jawaban tegas mengenai isu tersebut.
Hera F. Haryn menyatakan kabar mengenai adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA tidak benar. BCA juga meminta masyarakat merujuk pada sumber resmi perseroan dan media yang kredibel.
Artinya, sampai 30 September 2026, tidak terdapat konfirmasi resmi dari BCA mengenai rencana akuisisi saham perseroan oleh Haji Isam.
Rumor tersebut tetap menarik perhatian karena muncul bersamaan dengan serangkaian ekspansi Haji Isam yang memang terkonfirmasi, terutama rencana pengambilalihan 30 persen saham BYAN.
Di sinilah perbedaan antara rumor BCA dan transaksi BYAN menjadi penting.
Untuk BYAN, terdapat CSPA yang telah diumumkan kepada publik. Sedangkan untuk BCA, informasi yang beredar masih berupa rumor yang telah dibantah oleh manajemen perseroan bersangkutan.
Dari Tambang ke Perbankan?
Jika melihat perjalanan bisnisnya, ekspansi Haji Isam memang semakin luas.
Dari bisnis kontraktor pertambangan, jaringan usahanya berkembang ke batu bara, perkebunan, logistik, nikel, pangan dan perusahaan terbuka. Rencana transaksi BYAN menjadi salah satu langkah terbesar yang membuat profil bisnisnya kembali menjadi perhatian nasional.
Sementara rumor BCA membuka pembicaraan lain, apakah ekspansi tersebut suatu hari dapat berlanjut ke sektor perbankan?
Untuk saat ini, jawabannya belum dapat dipastikan. Yang tersedia adalah analisis mengenai kapasitas bisnis Haji Isam, sementara BCA telah menyatakan rumor mengenai aksi korporasi tersebut tidak benar.
Namun satu hal yang jelas, jejak ekspansi Haji Isam menunjukkan bahwa nama pengusaha asal Kalimantan Selatan tersebut semakin sulit dilepaskan dari pembicaraan mengenai konglomerasi, pasar modal dan transaksi korporasi berskala besar di Indonesia.(red)















