DJITUBERITA,EDITORIAL KHUSUS – Sebuah pesan yang disampaikan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dalam resepsi kesyukuran 100 tahun Gontor menjadi perhatian luas di ruang publik. Pesan itu disampaikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu, 19 September 2026.
Dalam pidatonya, KH Hasan sempat menggunakan ungkapan tentang orang yang “cari muka”. Ia menggambarkan perilaku tersebut melalui berbagai contoh, mulai dari orang yang mencari ijazah, nama, uang, jabatan, hingga mencari muka.
Media yang melaporkan peristiwa tersebut juga mencatat bahwa pernyataan itu tidak ditujukan secara spesifik kepada nama atau pejabat tertentu.
Namun, justru di situlah pesan tersebut menjadi relevan untuk direnungkan lebih luas.
Hubungan antara ulama dan penguasa semestinya tidak berhenti pada seremoni, jabat tangan, atau kedekatan. Seorang pemimpin membutuhkan nasihat yang jujur, sementara seorang ulama memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan nasihat dengan ilmu dan etika.
Dalam momentum satu abad Gontor, KH Hasan juga menyinggung prinsip kepemimpinan di lingkungan pesantren. Ia menyatakan bahwa pimpinan Gontor tidak boleh hidup lebih mewah daripada santri dan bahkan membuka ruang bagi protes apabila terjadi penyimpangan dari prinsip tersebut.
Pernyataan itu sebagai bagian dari pesan mengenai kesetaraan, transparansi, koreksi, dan otokritik dalam kepemimpinan.
Pesan tersebut menjadi semakin bermakna karena disampaikan ketika Presiden Prabowo hadir dalam peringatan 100 tahun Gontor. Pemerintah mencatat acara tersebut berlangsung di Balai Pertemuan Pondok Modern, Kampus Pusat Gontor, Ponorogo, dan menjadi momentum refleksi perjalanan satu abad lembaga pendidikan tersebut.
Di kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Gontor tidak boleh terlibat dalam politik praktis, tetapi tetap harus memahami politik. Ia juga menekankan posisi Gontor untuk berada di atas kepentingan golongan politik.
Dua pesan tersebut memperlihatkan satu ruang penting dalam kehidupan berbangsa, agama dan kekuasaan memiliki wilayah serta tanggung jawab masing-masing, tetapi keduanya tetap dapat bertemu dalam kepentingan yang lebih besar, yakni membangun masyarakat dan bangsa.
Karena itu, ungkapan tentang “mengingatkan penguasa, bukan mencari muka penguasa” patut dibaca sebagai pengingat bersama, bukan sekadar potongan kalimat yang menjadi viral di media sosial.
Kekuasaan membutuhkan koreksi. Pemimpin membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan apa yang perlu didengar, bukan hanya apa yang menyenangkan. Sebaliknya, kritik dan nasihat juga harus disampaikan secara bertanggung jawab, tidak berubah menjadi fitnah, penghinaan, atau kepentingan pribadi.
Pada akhirnya, jabatan dan kekuasaan mempunyai batas waktu. Yang lebih panjang adalah pertanggungjawaban atas bagaimana kekuasaan digunakan.
Dari Gontor, pesan itu kembali mengingatkan kita semua.
kedekatan dengan penguasa bukan ukuran keberhasilan. Yang jauh lebih penting adalah tetap mampu menjaga kejujuran ketika berada dekat dengan kekuasaan.(red)















