Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita UtamaEkonomi

Jika Rupiah Tembus Rp20.000 per Dolar AS, Seberapa Berat Dampaknya bagi Rakyat?

×

Jika Rupiah Tembus Rp20.000 per Dolar AS, Seberapa Berat Dampaknya bagi Rakyat?

Sebarkan artikel ini
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan potensi tekanan ekonomi apabila kurs menyentuh level psikologis Rp20.000 per dolar AS. Foto: Ilustrasi.

EDITORIAL,DJITUBERITA – Pelemahan nilai tukar rupiah selalu menjadi perhatian utama dalam perekonomian nasional. Sebagai mata uang yang digunakan dalam berbagai aktivitas ekonomi sehari-hari, pergerakan rupiah tidak hanya menjadi urusan pelaku pasar dan investor, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat luas.

Apabila kurs rupiah menembus level psikologis Rp20.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dampaknya berpotensi dirasakan hampir di seluruh sektor ekonomi.

Meski skenario tersebut belum tentu terjadi, para ekonom menilai pelemahan nilai tukar yang terlalu dalam dapat memicu berbagai tekanan terhadap daya beli masyarakat, dunia usaha, hingga stabilitas ekonomi nasional.

Harga kebutuhan berpotensi naik.
Salah satu dampak paling cepat dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga barang. Indonesia masih mengimpor berbagai bahan baku industri, komponen elektronik, obat-obatan, alat kesehatan, hingga sejumlah kebutuhan pangan dan energi.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperoleh barang dari luar negeri. Dalam banyak kasus, kenaikan biaya tersebut akan diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual produk.

Akibatnya, masyarakat berpotensi menghadapi inflasi yang lebih tinggi, terutama pada komoditas yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Daya beli masyarakat tertekan.
Kenaikan harga barang dan jasa pada akhirnya akan memengaruhi daya beli masyarakat. Pendapatan yang tidak bertambah secepat kenaikan harga membuat kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi berkurang.

Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah biasanya menjadi pihak yang paling merasakan dampak. Sebab sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk kebutuhan pokok seperti pangan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan.

Jika kondisi berlangsung dalam jangka panjang, konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mengalami perlambatan.

Pelemahan rupiah juga menjadi tantangan bagi dunia usaha, khususnya sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku dan mesin impor.
Kenaikan biaya produksi dapat menekan keuntungan perusahaan. Dalam kondisi tertentu, pelaku usaha terpaksa melakukan efisiensi, menunda ekspansi, bahkan mengurangi tenaga kerja untuk menjaga keberlangsungan bisnis.

Apabila situasi tersebut terjadi secara luas, pertumbuhan lapangan kerja baru berpotensi melambat dan tingkat pengangguran dapat meningkat.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah meningkatnya beban pembayaran utang luar negeri, baik yang dimiliki pemerintah maupun sektor swasta.

Utang dalam denominasi dolar AS akan menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke dalam rupiah. Artinya, pemerintah dan perusahaan harus menyediakan dana lebih besar untuk membayar pokok maupun bunga utang.

Kondisi ini berpotensi mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk membiayai program pembangunan dan pelayanan publik apabila tekanan kurs berlangsung dalam waktu yang lama.

Nilai tukar yang bergejolak umumnya menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor sebelum menanamkan modal.

Ketika rupiah mengalami pelemahan tajam hingga menyentuh Rp20.000 per dolar AS, sebagian investor dapat menilai risiko investasi di Indonesia meningkat. Akibatnya, keputusan investasi baru berpotensi tertunda hingga kondisi ekonomi dianggap lebih stabil.

Jika arus investasi melambat, penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan sektor produktif juga dapat ikut terpengaruh.
Suku Bunga Berpotensi Meningkat
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi, otoritas moneter berpotensi mengambil langkah pengetatan kebijakan melalui kenaikan suku bunga.

Di satu sisi, langkah tersebut dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi. Namun di sisi lain, biaya kredit bagi masyarakat dan dunia usaha akan meningkat.

Kredit perumahan, kendaraan, hingga pembiayaan usaha dapat menjadi lebih mahal sehingga aktivitas konsumsi dan investasi ikut melambat.

Di balik berbagai risiko tersebut, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor tertentu. Pelaku usaha yang berorientasi ekspor berpotensi memperoleh pendapatan lebih besar karena nilai dolar yang diterima dari hasil ekspor meningkat ketika dikonversi ke rupiah.

Sektor pariwisata juga dapat memperoleh manfaat karena Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan mancanegara.

Namun, manfaat tersebut umumnya hanya dirasakan oleh sektor tertentu dan belum tentu mampu menutupi tekanan yang dirasakan masyarakat secara luas akibat kenaikan harga dan melemahnya daya beli.

Para ekonom menilai bahwa yang paling penting bukan semata-mata angka Rp20.000 per dolar AS, melainkan kemampuan pemerintah dan otoritas ekonomi menjaga kepercayaan pasar, stabilitas politik, kepastian hukum, serta kredibilitas kebijakan ekonomi.

Sebab ketika kepercayaan terhadap ekonomi nasional tetap terjaga, gejolak nilai tukar umumnya dapat dikelola dengan lebih baik tanpa menimbulkan dampak yang terlalu besar terhadap kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, apabila rupiah benar-benar menembus level Rp20.000 per dolar AS, pihak yang paling merasakan konsekuensinya adalah rakyat. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya hidup yang semakin mahal, berkurangnya daya beli, hingga potensi perlambatan lapangan kerja menjadi risiko yang harus diantisipasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi tekanan ekonomi yang lebih luas.

Kurs rupiah terhadap dolar AS yang berada di level Rp18.163 per dolar AS pada Selasa (9/6/2026). Foto: Tangkapan Layar Google Finance.

Terinformasi hingga Selasa Pagi, 9 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berada di kisaran Rp18.130–Rp18.180 per dolar AS berdasarkan berbagai sumber pasar dan perbankan, yang menunjukkan rupiah berada di level Rp18.144 per dolar AS, menguat sekitar 43 poin atau 0,24 persen.

Sementara data perbankan nasional menunjukkan kurs jual dolar AS berada di kisaran Rp18.193–Rp18.250 per dolar AS.

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia pada 8 Juni 2026 tercatat di level Rp18.171 per dolar AS. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *