Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita UtamaEkonomi

Rupiah Kian Nyungsep, Dolar AS Makin Perkasa: Gejala Apa Lagi Ini?

×

Rupiah Kian Nyungsep, Dolar AS Makin Perkasa: Gejala Apa Lagi Ini?

Sebarkan artikel ini
Foto tangkapan layar pergerakan kurs dolar AS terhadap rupiah.(Dok/Net)

JAKARTA,DJITUBERITA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan gejala yang membuat dompet rakyat berdebar.

Berdasarkan tangkapan layar kurs yang beredar pada Kamis 4 Juni 2026, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh kisaran Rp18.029 per dolar AS.

Jika angka tersebut mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya, maka rupiah sedang berada dalam fase yang bisa disebut sebagai “olahraga ekstrem tanpa pelatih”.

Dalam bahasa ekonomi yang lebih sopan, pelemahan rupiah biasanya dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Namun dalam bahasa warung kopi, banyak yang mulai bertanya: “Apalagi yang sedang tidak beres?”

Penguatan dolar AS terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global, suku bunga tinggi di Amerika Serikat, serta arus modal yang cenderung kembali ke aset-aset berdenominasi dolar.

Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terpaksa menjadi penonton saat dolar berpesta.

Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah dapat memicu kenaikan harga barang impor, bahan baku industri, hingga meningkatkan biaya utang luar negeri. Artinya, ketika dolar tersenyum, pelaku usaha dalam negeri justru harus menghitung ulang biaya produksi mereka.

Secara satir, kondisi ini ibarat rakyat sedang berusaha menabung recehan, sementara kurs dolar berlari seperti atlet sprint yang baru melihat garis finis.

Setiap kenaikan seratus rupiah terasa kecil di layar ponsel, tetapi dampaknya bisa menjalar ke harga kebutuhan sehari-hari.

Di sisi lain, pemerintah dan otoritas moneter tentu diharapkan tidak sekadar menjadi komentator pertandingan.

Stabilitas nilai tukar membutuhkan kombinasi kebijakan yang kuat, mulai dari menjaga cadangan devisa, menarik investasi produktif, hingga memastikan kepercayaan pasar tetap terjaga.

Sementara itu, masyarakat hanya bisa menyaksikan grafik kurs yang terus menanjak dengan perasaan campur aduk. Sebab dalam ekonomi Indonesia, ada satu hukum yang sering dianggap berlaku: ketika dolar naik, harga-harga biasanya ikut belajar terbang.

Jika tren pelemahan ini berlanjut, pertanyaan berikutnya bukan lagi “berapa kurs dolar hari ini?”, melainkan barang apa lagi yang besok ikut naik?

Di sisi lain, kabar baiknya selalu ada bagi mereka yang bermain di kubu dolar. Eksportir berpotensi menikmati peningkatan pendapatan, pelaku usaha berorientasi ekspor memperoleh keuntungan kurs, dan mereka yang sejak lama menyimpan aset dalam dolar AS kini bisa tersenyum sedikit lebih lebar.

Dalam setiap pelemahan rupiah, selalu ada pihak yang terdampak dan ada pula yang memetik keuntungan. Kali ini, panggung global tampaknya masih lebih ramah bagi dolar dibanding rupiah.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *