DJITUBERITA,JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp17.883 per dolar Amerika Serikat berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia per 29 Mei 2026 memunculkan beragam respons.
Di tengah perdebatan mengenai faktor global dan domestik yang memengaruhi kurs, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi, menilai kondisi tersebut perlu dijadikan momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui pembangunan “Kedaulatan Produktif”.
Menurut Haidar Alwi, kekuatan ekonomi suatu negara tidak semata ditentukan oleh nilai tukar mata uang. Ia mencontohkan Jepang dan Korea Selatan yang membangun kapasitas industri, teknologi, pendidikan, serta produktivitas nasional selama puluhan tahun sebelum memiliki fondasi ekonomi yang kuat.
“Pasar memiliki fungsi penting karena mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap arah ekonomi sebuah negara. Namun bangsa tidak boleh menggantungkan seluruh masa depannya pada penilaian pasar jangka pendek,” kata Haidar Alwi dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/5/2026).
Ia menjelaskan, Kedaulatan Produktif merupakan kemampuan suatu bangsa mengubah sumber daya alam, sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kelembagaan menjadi nilai tambah yang berkelanjutan. Karena itu, menjaga kepercayaan pasar harus berjalan beriringan dengan penguatan produktivitas nasional.
Haidar menilai masyarakat perlu memahami bahwa nilai tukar hanya salah satu indikator ekonomi. Dalam ekonomi internasional, kurs dipengaruhi banyak faktor, mulai dari neraca pembayaran, transaksi berjalan, arus investasi, hingga kondisi geopolitik global.
Menurut dia, penguatan dolar AS, tingginya suku bunga internasional, dan ketidakpastian ekonomi global memang memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun faktor domestik seperti produktivitas, kesehatan fiskal, dan kemampuan menghasilkan devisa juga berperan penting.
“Masyarakat perlu memiliki literasi kurs yang lebih baik. Rupiah bukan satu-satunya ukuran kesehatan ekonomi. Kurs hanyalah termometer yang memberikan sinyal tertentu,” ujarnya.
Haidar mengingatkan agar publik tidak terjebak pada pandangan bahwa pelemahan rupiah selalu identik dengan kemunduran ekonomi. Sebaliknya, kondisi tersebut perlu dibaca secara komprehensif dengan melihat berbagai indikator ekonomi lainnya.
Dalam pandangannya, menjaga kepercayaan investor tetap menjadi faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa investasi yang dibutuhkan adalah investasi produktif yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan penguatan sektor riil.
Ia menilai masih terdapat anggapan keliru yang mempertentangkan kepentingan investor dengan kepentingan rakyat. Padahal, keduanya dapat saling mendukung apabila investasi diarahkan untuk memperkuat industri, teknologi, manufaktur, dan pembangunan infrastruktur.
“Investor yang baik akan menghargai negara yang memiliki Kedaulatan Produktif karena di situlah terdapat daya tahan ekonomi yang sesungguhnya,” kata Haidar.
Menurutnya, pengalaman Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi dibangun melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, penguatan industri nasional, serta investasi besar pada kualitas sumber daya manusia.
Haidar juga menyoroti pentingnya menjadikan Pasal 33 UUD 1945 sebagai landasan pembangunan ekonomi nasional. Ia menilai pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, Indonesia perlu terus memperkuat hilirisasi industri, ketahanan pangan dan energi, modernisasi pertanian, pengembangan koperasi produktif, penguatan UMKM berorientasi ekspor, serta investasi pada pendidikan dan riset.
Menurut Haidar, banyak negara kaya sumber daya alam gagal menjadi kekuatan ekonomi karena tidak mampu mengubah kekayaan tersebut menjadi produktivitas. Sebaliknya, negara yang berhasil membangun ilmu pengetahuan, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia mampu tumbuh menjadi pemain utama ekonomi dunia.
“Rupiah yang kuat pada akhirnya bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari bangsa yang berhasil membangun peradabannya sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keseimbangan antara kepercayaan pasar dan Kedaulatan Produktif menjadi kunci untuk membangun ekonomi yang tangguh menghadapi gejolak global sekaligus mampu menjaga kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang,”pungkasnya.(tim)















