Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita DaerahBerita Utama

Pergam Selalu Berkonflik, Ada Apa dengan Desa Ini?

×

Pergam Selalu Berkonflik, Ada Apa dengan Desa Ini?

Sebarkan artikel ini
Desa Pergam Kabupaten Bangka Selatan dalam pusaran konflik lahan! (Foto/Ist)

Desa Pergam,Bangka Selatan – Konflik demi konflik terus berulang di Desa Pergam, Kecamatan Air Gegas. Terbaru, polemik ratusan hektare lahan yang dipersoalkan warga kembali memantik pertanyaan besar, ada apa sebenarnya dengan desa ini?

Kasus terbaru mencuat setelah warga mempersoalkan dugaan penerbitan Surat Pernyataan Penguasaan Tanah (SP3AT) yang dinilai tidak transparan dan terkesan sepihak. Lahan yang dipermasalahkan tidak sedikit, disebut mencapai lebih dari 500 hektare, bahkan sempat ditelusuri hingga 700 hektare. Sebagian di antaranya, menurut warga, belum jelas status kepemilikannya.

Persoalan ini bukan sekadar sengketa administratif. Warga yang telah mengelola lahan secara turun-temurun mengaku dirugikan, bahkan tersisih dari tanah yang selama ini mereka garap.

Di sisi lain, muncul dugaan praktik jual beli lahan yang hanya melibatkan pihak tertentu, memunculkan kesan adanya perlakuan berbeda di tengah masyarakat.

Dalam jumpa pers di kawasan Pantai Batu Kapur Toboali, Fikri warga secara terbuka menyampaikan kekecewaan, didampingi kuasa hukumnya Suhardi, SH, MH. Jumat (17/4/2026). Mereka mempertanyakan dasar hukum penerbitan dokumen seperti SP3AT dan SKT yang dinilai tidak pernah dijelaskan secara transparan kepada warga.

Upaya penyelesaian melalui mediasi desa hingga audiensi dengan pemerintah daerah pun belum membuahkan hasil. Bahkan, dua kali mediasi sebelumnya dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. Situasi ini memperkuat kesan bahwa konflik di  Desa Pergam bukan hanya berlarut, tetapi juga tidak dikelola secara tuntas.

Di sisi lain, pemerintah desa menyatakan bahwa penerbitan SP3AT dilakukan berdasarkan persetujuan masyarakat dengan tujuan pengelolaan hutan desa—untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Namun, perbedaan persepsi antara warga dan pemerintah desa masih tajam dan belum menemukan titik temu.

Secara geografis, Desa Pergam bukan wilayah biasa. Terletak di bagian selatan Pulau Bangka, desa ini memiliki bentang alam yang kaya mulai dari kawasan hutan, perkebunan,yang sejak lama menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Di atas kertas, Pergam adalah desa dengan potensi besar. Hamparan lahan luas dimanfaatkan untuk lada, karet, dan sawit. Dalam konteks wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pergam termasuk desa dengan kekayaan sumber daya alam yang menjanjikan.

Selain itu, tingginya nilai ekonomi lahan turut memperbesar potensi konflik kepentingan. Dugaan praktik jual beli lahan yang tidak merata semakin memperkeruh situasi, sementara lemahnya mediasi di tingkat lokal membuat konflik sulit diselesaikan secara damai.

Kini, Pergam berada dalam bayang-bayang konflik yang lebih besar. Indikasi untuk membawa perkara ke jalur hukum mulai menguat seiring kebuntuan penyelesaian.

Jika tidak segera ditangani secara terbuka, adil, dan menyeluruh, pertanyaan “ada apa dengan Desa Pergam?” bukan lagi sekadar judul melainkan cerminan nyata dari desa yang terus bergulat dengan konflik agraria tanpa akhir.

Sebagai bentuk keberimbangan pemberitaan sesuai Undang-Undang Pers, redaksi telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala Desa Pergam, Sukardi, melalui pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini ditayangkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi apabila diperlukan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *