Jakarta – Tingkat kepercayaan publik terhadap Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menunjukkan tren peningkatan signifikan sepanjang awal 2026. Berdasarkan data HAI Public Trust Index yang dikembangkan oleh Haidar Alwi Institute, angka kepercayaan publik tercatat mencapai 86,3% pada April 2026, naik dari 82,4% pada Februari 2026.
Dewan Pakar Forum Sipil Nusantara Bersatu (FSNB) menilai peningkatan ini mencerminkan keberhasilan transformasi Polri dalam membangun citra sebagai institusi yang lebih transparan, responsif, dan berorientasi pelayanan publik.
Menurut FSNB, data tersebut tidak hanya berbasis survei konvensional, tetapi juga diperkuat oleh analisis interaksi publik di berbagai platform digital, termasuk Instagram, TikTok, YouTube, dan X melalui ekosistem @haidaralwicare.
Transformasi Polri dan Resonansi Kepercayaan Publik
FSNB mencatat adanya fenomena yang disebut sebagai strategic trust resonance, yakni meningkatnya kepercayaan publik secara organik seiring dengan perubahan pendekatan Polri di lapangan.
Di bawah kepemimpinan Kapolri saat ini, Polri dinilai berhasil melakukan transformasi dari pendekatan kekuasaan menjadi pendekatan pelayanan (service-oriented policing). Hal ini tercermin dari meningkatnya komunikasi publik, transparansi kerja, serta respons cepat terhadap isu-isu masyarakat.
“Polri tidak lagi dipersepsikan sebagai institusi yang kaku, tetapi sebagai mitra masyarakat yang adaptif dan komunikatif,” tulis FSNB dalam keterangannya.
Peran Strategis dalam Stabilitas dan Ekonomi Nasional
FSNB juga menekankan bahwa stabilitas keamanan merupakan faktor kunci dalam mendukung agenda pembangunan nasional, termasuk visi Asta Cita yang diusung Presiden Prabowo Subianto.
Dalam konteks ini, Polri disebut berperan sebagai “infrastruktur tak kasat mata” yang menjaga kelancaran aktivitas ekonomi nasional. Tanpa jaminan keamanan, berbagai program strategis seperti hilirisasi industri, ketahanan pangan, dan investasi dinilai sulit berjalan optimal.
Pengamanan Mudik Lebaran Jadi Indikator Kinerja
Salah satu indikator utama peningkatan kepercayaan publik adalah keberhasilan pengamanan arus Mudik Lebaran 2026. Berdasarkan evaluasi HAI Public Trust Index, tingkat kepuasan masyarakat pada periode tersebut mencapai 87,1%.
Keberhasilan ini mencakup pengelolaan lalu lintas, pengamanan wilayah pemukiman, hingga mitigasi potensi gangguan keamanan secara menyeluruh.
FSNB menilai operasi tersebut sebagai bentuk operational excellence, yang tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga menjaga perputaran ekonomi nasional selama periode mudik.
Pendekatan Humanis dan Teknologi Jadi Kunci
Lebih lanjut, FSNB menilai keberhasilan Polri tidak terlepas dari kombinasi antara pendekatan humanis dan pemanfaatan teknologi (digital policing).
Pendekatan predictive dan preventive policing memungkinkan aparat memetakan potensi gangguan keamanan lebih dini, sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan tanpa tindakan represif berlebihan.
Selain itu, komitmen dalam pemberantasan narkoba, penegakan hukum, serta menjaga netralitas dalam dinamika politik turut memperkuat persepsi positif masyarakat.
Kesimpulan
FSNB menyimpulkan bahwa peningkatan kepercayaan publik terhadap Polri menjadi indikator penting bagi stabilitas demokrasi dan keamanan nasional. Sinergi antara kebijakan pemerintah, kepemimpinan Polri, serta dukungan data dari Haidar Alwi dinilai telah menciptakan standar baru dalam pelayanan keamanan di Indonesia.
Dengan tingkat kepercayaan yang stabil di atas 86%, Polri dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk mendukung agenda pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.(rilis)















