Bangka Selatan, Babel – Teriakan petani sawit meledak dalam forum audensi harga Tandan Buah Segar (TBS). Mereka tak hanya menyuarakan keluhan, tetapi juga menuntut keadilan atas kebijakan yang dinilai timpang dan minim keberpihakan terhadap nasib petani.
Dalam forum yang digelar Senin siang (13/4/2026) di Ruang Rapat Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, kritik tajam mengarah pada perusahaan kelapa sawit (PKS) yang dinilai tidak konsisten dalam membangun komitmen kemitraan.
Sukarto, petani asal Desa Delas, dengan tegas menyampaikan bahwa persoalan utama petani bukan semata soal harga, melainkan juga menyangkut kualitas pupuk yang selama ini terabaikan.
“Jangan hanya bicara TBS dan CPO naik 20 persen. Pupuk juga harus dijaga kualitasnya. Bagaimana petani mau menghasilkan buah yang baik kalau pupuknya tidak terjamin,” kesalnya.
Menurutnya, kebijakan yang terlalu berfokus pada harga tanpa diimbangi pengawasan di sektor hulu justru merugikan petani. Ia mengungkapkan, selama bertahun-tahun tidak ada kejelasan terkait distribusi, harga, maupun standar kualitas pupuk di lapangan.
“Sudah enam tahun pengaturan pupuk tidak jelas. Ini yang membuat petani sulit berkembang. Padahal tujuan pemerintah jelas untuk mensejahterakan rakyat,” katanya.
Selain itu, petani juga menyoroti sikap PKS yang dinilai berubah setelah perusahaan beroperasi. Komitmen awal yang terbangun saat proses perizinan dinilai tidak berlanjut dalam praktik di lapangan.
“Waktu datang baik, tapi setelah berdiri petani seperti dilupakan. Kami ini punya modal, bukan sekadar pelengkap,” tegasnya.
Desak Perbaikan Menyeluruh
Audensi tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, perwakilan PKS, serta DPD APKASINDO Bangka Selatan. Awalnya forum membahas harga TBS di tingkat pengepul, namun berkembang menjadi ruang penyampaian keresahan petani secara menyeluruh.
Petani mendesak pemerintah tidak hanya menetapkan harga, tetapi juga memastikan pengawasan terhadap pupuk, serta menegakkan kemitraan yang adil antara perusahaan dan petani.
Di penghujung forum, satu hal menjadi benang merah: petani tidak sekadar meminta kenaikan harga, tetapi menuntut keadilan yang nyata.
Keadilan dalam akses pupuk berkualitas, keadilan dalam sistem kemitraan, serta keadilan dalam kebijakan yang benar-benar berpihak pada mereka sebagai tulang punggung sektor sawit.
Jika tuntutan ini terus diabaikan, suara petani diyakini tidak akan berhenti melainkan akan semakin keras hingga benar-benar didengar,”seru Sukarto.















