Oleh: Tokoh Pemuda Maluku Syahrul Rumau Rumatiga – 21 Maret 2026
Maluku – Tradisi Cakalele di Desa Inlomin, Kecamatan Pulau Gorom, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Provinsi Maluku, bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan napas kehidupan yang diwariskan dari leluhur kepada generasi masa kini. Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, masyarakat Inlomin tetap teguh menjaga warisan ini sebagai identitas dan kebanggaan bersama.

Cakalele bukan hanya tentang gerakan tari yang enerjik dan penuh semangat, tetapi juga sarat makna historis dan filosofis. Ia mencerminkan keberanian, semangat juang, serta nilai-nilai kebersamaan yang telah tertanam kuat dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu. Setiap hentakan kaki dan ayunan parang dalam tarian ini menjadi simbol perlawanan dan keteguhan hati leluhur dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Namun, di era globalisasi saat ini, eksistensi tradisi seperti Cakalele menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan gaya hidup, minimnya minat generasi muda, hingga kurangnya perhatian dari berbagai pihak menjadi ancaman nyata bagi kelestariannya. Jika tidak dijaga dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin tradisi ini perlahan akan memudar.
Oleh karena itu, pelestarian Cakalele harus menjadi tanggung jawab bersama. Peran tokoh adat, pemerintah desa, hingga generasi muda sangat penting dalam menjaga agar tradisi ini tetap hidup. Edukasi budaya sejak dini, penyelenggaraan festival, hingga integrasi dalam kegiatan sosial masyarakat dapat menjadi langkah konkret untuk memastikan Cakalele terus diwariskan lintas generasi.
Lebih dari sekadar tradisi, Cakalele adalah jati diri. Ia mengajarkan tentang keberanian, penghormatan terhadap leluhur, dan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya di tengah perubahan zaman. Desa Inlomin telah memberikan contoh bahwa warisan leluhur tidak harus hilang ditelan waktu, melainkan bisa tetap lestari jika dijaga dengan kesadaran dan komitmen bersama.
Pada akhirnya, menjaga Cakalele berarti menjaga akar budaya kita sendiri. Sebab tanpa akar yang kuat, sebuah generasi akan kehilangan arah. Dan di Desa Inlomin, akar itu masih berdiri kokoh—hidup, bergerak, dan terus diwariskan dari leluhur untuk generasi.(red)















