Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita NasionalBerita Utama

Apa itu Seskoad? Letkol Teddy dan Tantangan Regenerasi Perwira TNI

×

Apa itu Seskoad? Letkol Teddy dan Tantangan Regenerasi Perwira TNI

Sebarkan artikel ini
Sejumlah perwira siswa Dikreg LXVII Seskoad berjalan menuju area kegiatan di lingkungan kampus Seskoad di Bandung. Foto: Seskoad

Jakarta – Letnan Kolonel Infanteri Teddy Indra Wijaya resmi terdaftar sebagai perwira siswa (pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVII Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad).

Teddy mengikuti pendidikan tersebut bersama rekan-rekannya satu angkatan lulusan Akademi Militer (Akmil) 2011.

Kehadiran Teddy dalam pembukaan resmi Dikreg Seskoad yang digelar di Bandung, Kamis (5/2), menarik perhatian publik.

Baca Selengkapnya: Di Tengah Tugas Negara, Seskab Letkol Teddy Ikuti Dikreg Seskoad dan Studi S3 ITB

Baca Selengkapnya: Seskab Teddy: Presiden Prabowo Gelar Ratas di Hambalang, Bahas Penanggulangan Bencana hingga Insentif Akhir Tahun

Sosoknya yang saat ini menjabat Sekretaris Kabinet RI dengan cepat menjadi perbincangan luas, terutama di media sosial.

Di tengah padatnya tugas sebagai pejabat negara, Teddy dinilai tetap menunjukkan komitmen profesionalnya sebagai perwira TNI AD dengan mengikuti pendidikan lanjutan. Pendidikan Seskoad merupakan tahapan wajib dalam pembinaan karier perwira menengah, khususnya bagi mereka yang diproyeksikan menduduki jabatan strategis pada level perwira tinggi di masa mendatang.

Lulusan Seskoad dipersiapkan untuk mengemban jabatan penting dalam struktur komando maupun staf, baik di tingkat satuan maupun Markas Besar TNI. Dengan mengikuti Dikreg Seskoad, Teddy dinilai memperkuat kesiapan dirinya apabila suatu saat kembali berdinas penuh dalam struktur Mabes TNI.

Adaptasi Metode Pendidikan
Masuknya Teddy sebagai pasis juga menghadirkan dinamika tersendiri bagi Seskoad. Lembaga pendidikan perwira TNI AD tersebut melakukan penyesuaian metode pembelajaran dengan memanfaatkan sistem daring (online), sebagai pengembangan dari metode tatap muka yang selama ini diterapkan.

Penggunaan metode daring dipandang sebagai bentuk adaptasi agar pasis yang memiliki tanggung jawab strategis di luar institusi TNI tetap dapat mengikuti proses pendidikan secara optimal.

Langkah ini sekaligus menandai keterbukaan Seskoad terhadap perkembangan teknologi komunikasi dan kebutuhan zaman.

Secara historis, Seskoad dikenal konsisten mempertahankan sistem pendidikan tatap muka. Namun, perkembangan teknologi digital dan dinamika tugas perwira masa kini mendorong perlunya terobosan tanpa mengurangi substansi pendidikan militer itu sendiri.

Adaptasi semacam ini bukan hal baru dalam sejarah Seskoad. Pada awal 1960-an, Seskoad pernah memberikan kesempatan kepada Brigadir Jenderal Soeharto saat itu baru menjabat sebagai Panglima Kostrad untuk mengikuti pendidikan Seskoad melalui mekanisme khusus yang dikenal sebagai kursus C.

Program tersebut dirancang lebih singkat dibanding pendidikan reguler, sebagai bentuk penyesuaian terhadap kebutuhan institusional dan dinamika kepemimpinan TNI kala itu. Ini menunjukkan bahwa Seskoad sejak awal memiliki fleksibilitas institusional untuk menjaga kesinambungan kaderisasi perwira TNI.

Fenomena Letkol Teddy juga membuka diskursus lebih luas mengenai regenerasi dan pembinaan perwira TNI di era generasi milenial hingga Generasi Z.

Profesi militer kini menjadi salah satu dari sekian banyak pilihan pengabdian, seiring berubahnya orientasi kesejahteraan dan tantangan hidup generasi muda.

Meski demikian, antusiasme masuk Akmil dan akademi matra lainnya tetap tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa profesi tentara masih memiliki daya tarik tersendiri sebagai panggilan pengabdian, meski dihadapkan pada tantangan kesejahteraan dan tuntutan profesionalisme yang semakin kompleks.

Dalam konteks inilah, peran perwira menengah lulusan Seskoad menjadi strategis. Mereka bukan hanya diuji kemampuan kepemimpinannya, tetapi juga memikul tanggung jawab membentuk karakter, integritas, dan keteladanan bagi perwira muda di bawahnya.

Generasi Letkol Teddy dinilai sebagai generasi penghubung yang akan menjaga kesinambungan nilai-nilai kemiliteran, sekaligus menjawab tuntutan zaman. Pendidikan Seskoad menjadi ruang penting untuk memastikan bahwa regenerasi kepemimpinan TNI berlangsung secara profesional, adaptif, dan berintegritas. (rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *