Jakarta – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri akibat persoalan ekonomi keluarga.
Peristiwa ini dinilai sebagai peringatan serius bagi negara untuk memperkuat pendataan dan pendampingan terhadap keluarga rentan agar tidak terlewat dari perlindungan sosial.
“Tentu kita prihatin dan turut berduka. Yang kedua, ini harus menjadi perhatian dan atensi kita bersama,” ujar Gus Ipul di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Gus Ipul mengungkapkan, orang tua almarhum belum pernah tercatat sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Akibatnya, keluarga tersebut tidak pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah.
“Orang tua almarhum memang belum pernah terdata sebagai KPM sehingga tidak menerima bansos,” kata dia.
Menurut Gus Ipul, kondisi ini menunjukkan masih adanya celah serius dalam sistem pendataan kesejahteraan sosial. Akurasi data menjadi kunci agar negara dapat menjangkau seluruh keluarga miskin dan rentan yang membutuhkan perlindungan, rehabilitasi, maupun pemberdayaan.
“Ini kembali pada pentingnya data. Bagaimana data kita sajikan sebaik mungkin agar seluruh keluarga yang membutuhkan dapat terjangkau,” tegasnya.
Ia menambahkan, Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah harus memperkuat pendampingan langsung di lapangan sekaligus memperbarui basis data kesejahteraan sosial agar tidak ada warga miskin yang luput dari intervensi negara.
“Bersama pemerintah daerah, kita harus memperkuat pendampingan dan memperkuat data. Harapannya, tidak ada lagi yang tidak terdata,” ujarnya.
Sebagai langkah cepat, Kementerian Sosial telah menerjunkan tim ke lokasi kejadian untuk melakukan asesmen terhadap kondisi keluarga almarhum, termasuk nenek korban yang selama ini menjadi pengasuh utama.
“Kami sudah menurunkan tim untuk asesmen. Harapannya, keluarga almarhum dan neneknya bisa segera masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sehingga berhak menerima bantuan ke depan,” kata Gus Ipul.
Sebelumnya, seorang anak berinisial YBR (10), siswa kelas IV SD, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Kamis (29/1/2026).
Kini, Kepolisian setempat masih menyelidiki latar belakang peristiwa tersebut, termasuk dugaan kekecewaan korban karena tidak dibelikan peralatan tulis akibat keterbatasan ekonomi keluarga. (Rilis Humas Kemensos RI)















