Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita NasionalJakarta

Diskusi Publik Haidar Alwi Institute:Sinergi Pemuda dan Kepolisian Adalah Manifestasi Sejati Sumpah Pemuda

×

Diskusi Publik Haidar Alwi Institute:Sinergi Pemuda dan Kepolisian Adalah Manifestasi Sejati Sumpah Pemuda

Sebarkan artikel ini
Diskusi publik Haidar Alwi Institute di Warunk Wow KWB Mampang Jakarta Selatan - Bahas sinergi pemuda dan kepolisian sebagai wujud nyata semangat ikrar sumpah pemuda, 28 Oktober 2025.(Foto/Ist- Tim)

Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Haidar Alwi Institute menggelar diskusi publik bertajuk “Sinergi Pemuda dan Kepolisian sebagai Manifestasi Sejati Sumpah Pemuda” di Warunk Wow KWB Mampang Jakarta Selatan, Selasa Sore (28/10/2025).

Kegiatan ini menghadirkan tokoh nasional R. Haidar Alwi, Direktur Haidar Alwi Institute Sandri Rumanama, serta perwakilan KNPI dan aparat kepolisian sebagai narasumber utama.

Momentum Hari Sumpah Pemuda tahun 2025 menjadi refleksi penting bagi bangsa Indonesia. Tokoh nasional R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menilai bahwa semangat persatuan sejati tidak hanya diwariskan melalui teks sejarah, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata antara pemuda dan kepolisian.

Menurut Haidar Alwi, sinergi antara pemuda dan Polri merupakan bentuk paling konkret dari semangat Sumpah Pemuda. Ia menegaskan, kolaborasi tersebut adalah gabungan antara energi intelektual generasi muda dan tanggung jawab hukum aparat penegak hukum.

“Sumpah Pemuda bukan hanya tentang bersatu, tapi tentang bagaimana kita bertanggung jawab menjaga persatuan itu,” ujarnya.

Haidar Alwi menyebut tantangan bangsa kini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan polarisasi informasi dan ketimpangan literasi digital. Data BRIN 2025 mencatat lebih dari 70 persen potensi konflik sosial berawal dari misinformasi, sementara laporan Kominfo menunjukkan 42 persen penyebar hoaks berasal dari kalangan muda berusia 18–30 tahun.

Ia menilai langkah Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah tepat dengan memperkuat paradigma Presisi, Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan.

 “Presisi bukan sekadar kebijakan, tapi metode membangun empati hukum,” jelad Haidar.

Transformasi digital Polri seperti layanan daring, kanal pengaduan transparan, dan respons cepat di lapangan disebut Haidar sebagai bukti bahwa kepolisian kini menjadi lembaga edukatif. Pemuda, katanya, perlu berperan aktif menghadirkan kreativitas dan literasi hukum di tengah masyarakat.

 “Ketika pemuda belajar dari disiplin polisi, dan polisi belajar dari idealisme pemuda, di situlah republik ini menemukan keseimbangannya,” tambahnya.

Haidar Alwi menyebut pemuda dan kepolisian sebagai dua “sekolah bangsa” yang saling melengkapi. Polisi menanamkan disiplin dan rasa aman, sementara pemuda menumbuhkan kreativitas dan empati sosial.

 “Polisi menjaga hukum agar tidak kehilangan hati, pemuda menjaga moral agar tidak kehilangan arah. Keduanya jika bersatu, akan menumbuhkan bangsa yang berakal sehat,” jelasnya.

Sinergi itu, lanjut Haidar, sudah terlihat di berbagai daerah melalui kegiatan pelatihan literasi hukum dan sosialisasi anti-hoaks yang digelar mahasiswa bersama Bhabinkamtibmas di kampus dan desa. Ia menyebut, inilah contoh konkret kerja sama antara pemuda dan kepolisian sebagai bentuk pendidikan kebangsaan.

Menjaga Ruh Sumpah Pemuda

Haidar menekankan bahwa Sumpah Pemuda adalah janji moral dan spiritual untuk menjaga bangsa dengan ilmu dan akhlak. Ia menilai, sinergi pemuda dan aparat merupakan fondasi bagi Indonesia yang aman, adil, dan berpikir maju.

 “Negara kuat bukan karena banyak aturan, tetapi karena rakyatnya sadar makna keadilan,” tegasnya.

Dialog Publik Haidar Alwi Institute

Dalam momentum Hari Sumpah Pemuda, Direktur Haidar Alwi Institute, Sandri Rumanama, menggelar dialog publik yang menghadirkan tokoh pemuda dan kepolisian.

“Pemuda memiliki peran penting bagi pembangunan bangsa. Tidak bisa hanya pemuda yang bergerak, semua elemen harus bersinergi,” ujarnya.

Sandri mengajak generasi muda untuk memulai kontribusi dari hal kecil.

“Setiap hal besar diawali langkah kecil. Jangan bermimpi membangun bangsa kalau bangun tidur saja masih siang,” katanya sambil tersenyum.

Sementara itu, Putri Khairunnisa, perwakilan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), menegaskan bahwa pemuda bukan hanya pasar, tetapi penentu masa depan bangsa.

“Apa yang kita cita-citakan bukan lagi tentang pemuda, tapi tentang Indonesia. Semangat kita adalah semangat bangsa,” tandasnya.

Forum diskusi publik ini diharapkan menjadi refleksi dan langkah konkret dalam mempererat hubungan antara pemuda dan kepolisian, sekaligus meneguhkan kembali semangat Sumpah Pemuda sebagai dasar persatuan nasional.

Melalui dialog dan kolaborasi, kedua elemen bangsa ini diharapkan mampu membangun kesadaran hukum, memperkuat literasi sosial, serta menjaga keutuhan dan kedamaian Indonesia di tengah tantangan era digital.(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *