Djituberita.com – Menjelang Pilkada serentak 2024, pada 27 Nopember 2024 dinamika politik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung semakin memanas, diiringi dengan harapan masyarakat akan solusi konkret terhadap tantangan ekonomi yang melanda.
Oleh karena itu, Ruang Redaksi Djituberita.com mencermati bahwa isu ekonomi menjadi topik sentral dan populis di masyarakat Bangka Belitung, khususnya menjelang Pilkada serentak 2024.
Ekonomi Bangka Belitung tengah memasuki fase krusial. Dalam konteks Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024, isu ekonomi menjadi perhatian utama masyarakat (Pemilih). Melambatnya pertumbuhan ekonomi telah memengaruhi berbagai sektor vital, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada sektor pertambangan dan pertanian.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, indeks pertumbuhan ekonomi provinsi Bangka Belitung hanya tumbuh 3,06% pada kuartal pertama 2024, jauh di bawah target nasional.
Dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 4,13%, ini jelas menunjukkan adanya tren perlambatan. Sektor pertambangan, yang dulunya merupakan motor utama ekonomi daerah, kini menghadapi tantangan besar akibat harga komoditas timah yang fluktuatif di pasar internasional.
Industri ini mengalami kontraksi sebesar -2,57% pada triwulan kedua 2024. Hal ini diperparah dengan penurunan daya beli masyarakat, terlihat dari Indeks Konsumsi Rumah Tangga yang hanya mencapai 1,8%, angka yang rendah dibandingkan wilayah lain di Indonesia.
Di Toboali Kabupaten Bangka Selatan, para pedagang lokal turut merasakan dampak perlambatan ekonomi ini.
“Pembeli sekarang makin sepi, harga barang naik, tapi pendapatan kami tidak ikut naik,” ungkap Lani, seorang pedagang pasar. Ia berharap pemimpin terpilih nanti mampu menggerakkan sektor ekonomi kerakyatan dan memberikan insentif bagi usaha kecil. “Kami butuh kebijakan yang nyata, bukan hanya janji-janji,” tambahnya pada awak media,Selasa Pagi (29/10/2024).

Senada dengan itu, Pendi, seorang pedagang ikan di pasar terminal Toboali mengeluhkan tingginya biaya operasional yang membuat pendapatan semakin tertekan. “Kami merasakan betul dampak ekonomi lesu ini,” ujarnya.
Pendi berharap para calon kepala daerah bisa memperhatikan kebutuhan sektor perdagangan dan perikanan yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal,”keluhnya.
Bagi warga Toboali, stabilitas ekonomi bukan sekadar janji politik, tetapi kebutuhan mendesak yang sangat dinantikan. Mereka ingin melihat pemimpin yang tidak hanya memberikan janji, tetapi juga komitmen nyata dalam menggerakkan ekonomi dan mendukung usaha-usaha kecil di Bangka Belitung khususnya kabupaten Bangka Selatan.

Melalui momentum Pilkada, masyarakat Bangka Belitung berharap pemimpin yang terpilih nanti mampu mengatasi perlambatan ekonomi ini dengan menciptakan diversifikasi ekonomi yang berkelanjutan.
Tuntutan untuk mengembangkan sektor pariwisata, perikanan, dan pertanian yang ramah lingkungan semakin menguat sebagai alternatif bagi ketergantungan terhadap pertambangan. Di tengah kondisi ekonomi yang menantang ini, kandidat kepala daerah perlu menunjukkan komitmen dan solusi yang konkret agar Bangka Belitung dapat bangkit dari keterpurukan ekonomi.
Sebab itu, sebagai pemilih (Hak politik -red) masyarakat harus mempertimbangkan program ekonomi kandidat yang benar-benar berorientasi pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat luas.(Red/*)















