Opini,Djituberita.com– Di sudut remang pusat kota Toboali, saat kabut dinihari masih menyelimuti, suara cangkir saling beradu terdengar pelan di kedai kopi kecil di area jalan persimpangan pada Rabu Dinihari (27/11/24).
Hatomi, atau disapa Tom Hebat, sosok yang dikenal sebagai “panglima pena” Bangka Selatan, duduk di tengah lingkaran meja, ditemani rekan-rekan sesama jurnalis lokal.
Dia jurnalis yang telah menempuh jalan terjal profesi kewartawanan. Pemilik pengusaha media BabelHebat.com dengan reputasi yang menjulang dan segudang embel-embel kompetensi sampai ke jenjang Wartawan utama yang ia gapai sampai di titik itu.
Terlihat dia termenung sejenak di tengah tidak ada riak hiruk pikuknya Pilkada Serentak 2024.
Pilkada serentak khususnya Kabupaten Bangka Selatan, menurutnya tidak memberi denyut semarak seperti yang mereka harapkan di luar ekspektasi ideal.
Hatomi, dengan lirih suaranya, melontarkan pertanyaan tajam, “Apa yang harus kita lakukan saat suara rakyat hanya menjadi gema sunyi di telinga para penguasa?
Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat daripada asap kopi yang mengepul di sekitar mereka.
Perbincangan berubah menjadi sesi curhat tanpa filter. Ada yang berbicara tentang kebingungan arah liputan, ada yang mengeluh tentang tekanan ekonomi yang menghimpit, Tapi yang paling terasa adalah kegetiran mereka pilkada kali ini seperti berjalan di atas jalan yang landai tanpa greget, tanpa arah.
Seorang jurnalis rekan Hatomi di sampingnya menyeletuk kegundahannya, “Apa artinya berita kami jika hanya jadi dokumen tanpa perubahan?,ungkapnya lirih.
Hatomi hanya tersenyum tipis, mencerminkan kelelahan yang hanya dimengerti oleh mereka yang telah terlalu lama berada di tengah badai jurnalistik.
Dengan penuh satir, ia menjawab, “Kita ini seperti lilin, menerangi yang lain sambil membakar diri sendiri. Tapi mungkin, kini kita harus belajar menjadi api unggun, menerangi lebih besar tanpa musnah dalam sekejap.
“Ketika kopi mulai mendingin, hasil dari pertemuan tak resmi ini mulai terwujud. Mereka bersepakat bahwa tugas mereka bukan sekadar melaporkan, tapi menjadi pelopor”.
Jika pilkada tak memiliki arah, maka mereka yang akan menyalakan kompasnya. Di bawah bintang yang nyaris tertutup kabut dinihari, Hatomi mengakhiri pertemuan dengan satu kalimat penuh makna.
“Rakyat mungkin tidak mendengar suara kita sekarang, tapi ingatlah, tinta kita akan menjadi catatan sejarah dikemudian hari.Jangan biarkan kertas ini kosong.” Para jurnalis itu pergi satu per satu, meninggalkan kedai kopi dengan langkah lebih ringan cenderung gundah gulana.
Kendati belum ada jawaban pasti, mereka tahu bahwa perubahan dimulai dari tekad untuk terus menyuarakan kebenaran, bahkan di tengah keraguan. Di luar, Toboali perlahan bangkit dari tidurnya, menyaksikan pahlawan-pahlawan sunyi ini bersiap menantang hari berikutnya,bak judul lagu Mengejar Matahari .(Red/*)















