Jakarta – Rencana penyaluran persembahan Perayaan Natal Nasional 2025 untuk bantuan kemanusiaan Palestina kembali memunculkan perdebatan publik.
Pernyataan Ketua Panitia Natal Nasional, Maruarar Sirait, mengenai alokasi tersebut menyedot perhatian, terutama dari umat Kristen yang menilai masih banyak kelompok rentan di Indonesia yang perlu mendapat prioritas.
Peneliti Indonesia Government Watch IGoWa Brian Samosir, dalam Podcast JCC Network di Jakarta, Sabtu (29/11/2025), menegaskan bahwa meski solidaritas internasional penting, negara tetap memiliki tanggung jawab utama terhadap warga di dalam negeri, khususnya jemaat di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal).
“Natal bukan sekadar simbol. Ini adalah panggilan untuk melindungi mereka yang paling rapuh, dimulai dari rumah kita sendiri,” ujar Brian.
IGoWa mengapresiasi semangat kemanusiaan pemerintah yang ingin membawa pesan solidaritas global melalui momentum Natal. Namun Brian menilai dukungan tersebut tidak boleh berhenti pada simbolisme atau pencitraan.
“Solidaritas global itu baik. Tapi yang paling dekat harus diselamatkan dulu. Kalau 3T masih terabaikan sementara kita sibuk mencitrakan empati ke luar negeri, itu bukan solidaritas itu pencitraan,” ucap Brian.
Ia juga menyoroti persoalan mendasar yang masih dihadapi sebagian jemaat di dalam negeri, mulai dari akses rumah ibadah hingga keamanan beribadah.
“Bagaimana kita bicara solidaritas internasional jika di halaman rumah sendiri ada jemaat yang bahkan belum bisa beribadah dengan aman?” tambahnya.
Brian berharap Natal Nasional 2025 menjadi momentum refleksi bersama bukan sekadar panggung gestur moral, tetapi juga ajakan menata ulang prioritas solidaritas nasional.
“Natal memanggil kita untuk bertindak nyata dan berpihak pada yang paling rentan. Jangan sampai semangat membantu ke luar negeri membuat kita abai pada luka yang ada di rumah sendiri,” tutupnya dalam siaran Podcast JCC Network.















