Jakarta – Tren harga Tandan Buah Segar TBS kelapa sawit. pada April 2026 menunjukkan penguatan signifikan di tingkat global yang berdampak langsung pada harga nasional. Namun, di tengah tren positif tersebut, ketimpangan harga antar daerah di Indonesia masih fluktuatif di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. masih dibawah harga TBS di Provinsi Sumatera Utara ,(11/4/2026) secara nasional.
Global: Harga CPO Dorong Kenaikan TBS
Kenaikan harga TBS tidak terlepas dari penguatan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global. Permintaan tinggi dari negara importir utama menjadi faktor pendorong utama, dengan volume signifikan dari sejumlah negara.
🇮🇳 India
➤ ± 8–9 juta ton/tahun
🇨🇳 China
➤ ± 5–7 juta ton/tahun
🇪🇺 European Union
➤ ± 5–6 juta ton/tahun
🇵🇰 Pakistan
➤ ± 3–4 juta ton/tahun
Selain itu, pasar lain seperti Bangladesh, Mesir, hingga United States juga turut menyerap CPO Indonesia meski dalam volume lebih kecil dan sebagian dalam bentuk produk turunan.
Total permintaan global mencapai sekitar 45–50 juta ton per tahun, dengan Indonesia menyuplai lebih dari setengah kebutuhan dunia.
Momentum konsumsi tinggi pada periode Ramadan dan Idulfitri juga turut memperkuat harga sawit secara keseluruhan.
Pergerakan Harga CPO di Indonesia (April – Mei 2026)
Di dalam negeri, harga minyak sawit mentah (CPO) sepanjang April hingga proyeksi Mei 2026 menunjukkan tren menguat mengikuti pasar global.
➤ Awal April 2026: sekitar Rp14.800 – Rp15.200/kg
➤ Pertengahan April 2026: mencapai ± Rp15.300 – Rp15.500/kg
➤ Proyeksi Mei 2026: berpotensi bertahan di kisaran Rp15.000 – Rp15.600/kg
Angka ini sejalan dengan penetapan di daerah, termasuk Bangka Belitung yang menetapkan harga CPO sebesar Rp15.379,35/kg.
Penguatan ini didorong oleh:
➤ Kenaikan harga global
➤ Tingginya permintaan ekspor
➤ Konsumsi domestik (minyak goreng & biodiesel)
➤ Stok yang relatif terkendali
Nasional: Sumatera Utara Tembus Rp4.118/Kg
Di tingkat nasional, harga TBS mengalami kenaikan signifikan. Berdasarkan data periode April 2026:

➤ Rp4.118,08/kg (tertinggi, umur 21 tahun) Sumatera Utara.
➤ Rp4.110,77/kg (umur 10–20 tahun)
Sumatera Barat.
➤ ± Rp3.963/kg (hampir Rp4.000)
Riau dan Jambi.
➤ kisaran Rp3.600 – Rp3.800/kg
Ini menegaskan bahwa harga TBS nasional telah menembus Rp4.000/kg di beberapa daerah utama.
Babel: Resmi Rp3.783/Kg, Masih di Bawah Nasional
Sementara itu di Kepulauan Bangka Belitung, harga TBS periode 1–15 April 2026 ditetapkan:

➤ Rp3.783/kg (umur 10–20 tahun)
➤ Rp3.088/kg (umur 3 tahun – terendah)
Penetapan ini menggunakan acuan:
➤ Harga CPO: Rp15.379,35
➤ Harga kernel: Rp14.709,58
➤ Indeks K: 92,15%
Secara resmi, Babel masih dibawah sekitar Rp300–Rp400/kg dibanding harga TBS di Provinsi Sumatera Utara.
Fakta Lapangan: Harga Pengepul Lebih Rendah
Meski harga resmi cukup tinggi, kondisi di tingkat petani berbeda. Harga TBS yang diterima melalui pengepul berada di kisaran:
➡️ Rp2.700 – Rp2.900/kg
Selisih dengan harga resmi mencapai:
➡️ Rp800 – Rp1.000/kg
Ketimpangan Jadi Isu Utama
Perbedaan harga ini menunjukkan persoalan struktural dalam tata niaga sawit nasional:
➤ Ketergantungan petani pada pengepul
➤ Akses terbatas ke pabrik kelapa sawit (PKS)
➤ Rantai distribusi panjang
➤ Lemahnya pengawasan harga
Kesimpulan:
Harga TBS sawit April 2026 memperlihatkan kontras yang semakin nyata antara tren global dan realitas di daerah:
➤ Global: terus menguat didorong permintaan internasional
➤ Nasional: sudah menembus Rp4.118/kg di Sumatera Utara
➤ Babel: tertahan di bawah rata-rata, bahkan lebih rendah di tingkat petani sawit.
➡️ Kenaikan harga belum sepenuhnya dinikmati petani.
➡️ Disparitas harga masih menjadi persoalan utama di daerah penghasil.
Di tengah harga CPO Indonesia yang sudah berada di level tinggi, kondisi ini menegaskan bahwa persoalan utama bukan lagi pada harga global, melainkan pada distribusi dan tata niaga di dalam negeri.
Data tersebut bersumber dari penetapan resmi pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sehingga dapat dijadikan acuan yang kredibel dalam melihat perkembangan harga TBS di tingkat regional,dan serta laporan pasar komoditas minyak sawit (CPO) global.(red)















