Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita NasionalBerita Utama

Haidar Alwi Institute: Sorotan MSCI dan Moody’s Bukan Sinyal Krisis, Hanya Penyesuaian Persepsi Pasar

×

Haidar Alwi Institute: Sorotan MSCI dan Moody’s Bukan Sinyal Krisis, Hanya Penyesuaian Persepsi Pasar

Sebarkan artikel ini
R. Haidar Alwi, Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menyampaikan pandangannya terkait dinamika pasar dan arah kebijakan ekonomi nasional dalam sebuah forum diskusi di Jakarta. Foto: Istimewa

Jakarta – Sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia serta perubahan outlook kredit Indonesia oleh Moody’s Investors Service dinilai tidak mencerminkan adanya pelemahan fundamental ekonomi nasional.

Kedua hal tersebut lebih tepat dibaca sebagai fase penyesuaian persepsi pasar terhadap arah kebijakan baru pemerintah.

Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), R. Haidar Alwi, mengatakan dinamika tersebut lazim terjadi pada masa transisi pemerintahan dan perubahan prioritas kebijakan ekonomi.

Reaksi pasar terhadap sorotan MSCI dan outlook Moody’s merupakan hal yang wajar. Ini bukan indikasi krisis, melainkan proses adaptasi pasar terhadap arah kebijakan baru yang sedang dibangun pemerintah,” ujar Haidar Alwi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (11/2/2026).

Menurutnya, MSCI pada dasarnya menyoroti aspek teknis pasar modal, terutama terkait transparansi free float dan faktor investability. Isu tersebut bukan hal baru di negara berkembang dan lebih berkaitan dengan penyempurnaan mekanisme pasar, bukan penilaian negatif terhadap kekuatan ekonomi Indonesia.

Ia menilai respons cepat Bursa Efek Indonesia (BEI) dan regulator pasar keuangan dengan memperkuat koordinasi serta mengevaluasi standar transparansi dan tata kelola merupakan langkah tepat.

Dalam banyak kasus internasional, dialog dengan penyedia indeks global justru menjadi momentum peningkatan kualitas pasar dan mampu menarik investor jangka panjang,” jelasnya.

Terkait keputusan Moody’s yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, Haidar Alwi menegaskan bahwa peringkat kredit Indonesia tetap berada di level investment grade.

Hal ini menunjukkan lembaga pemeringkat masih menilai fundamental ekonomi Indonesia kuat.

Pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, rasio utang pemerintah yang terkendali, serta konsumsi domestik yang besar masih menjadi penopang utama ekonomi nasional. Perubahan outlook lebih mencerminkan kehati-hatian terhadap arah kebijakan ke depan, bukan karena risiko fiskal yang sudah memburuk,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa volatilitas pasar saat ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan merupakan fenomena global. Ketidakpastian suku bunga internasional, perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar, serta perubahan arus modal global turut menekan pasar negara berkembang.

Fluktuasi harga saham dan nilai tukar dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi riil. Pasar keuangan bergerak lebih cepat dibandingkan fundamental ekonomi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Haidar Alwi menilai pemerintah dan otoritas ekonomi masih memiliki ruang kebijakan yang memadai untuk menjaga stabilitas. Disiplin fiskal tetap menjadi komitmen utama, dengan koordinasi yang terjaga antara pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas pasar keuangan.

Pengalaman Indonesia menghadapi tekanan global sebelumnya membuktikan stabilitas makroekonomi dapat dipertahankan dengan komunikasi kebijakan yang konsisten dan respons yang terukur,” pungkasnya.

Ia menambahkan, bagi investor, kondisi seperti ini seharusnya dilihat sebagai bagian dari siklus pasar. Selama fundamental ekonomi tetap solid dan reformasi pasar berlanjut, kepercayaan investor diyakini akan kembali secara bertahap. (Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *